TEMPO/Nickmatulhuda
Topik
Banyak Kiat Menormalkan yang Terbelakang
TEMPO Interaktif, Jakarta: Sore itu, otot-otot pada pelupuk mata Intan Sartika, 27 tahun, menegang. Dia bakal membawakan puisi cinta di depan sekitar puluhan orang. Suatu hal yang jarang ia lakukan. Suasana ruangan pun hening lantaran setiap orang menanti rangkaian kata-katanya. Intan pun berusaha percaya diri dan mengabaikan puluhan sorot mata yang tertuju kepadanya.
Di belakang panggung sang bunda terus memberinya semangat. Satu demi satu untaian kalimat pun memecah kesenyapan. Penyandang down syndrome ini pun berhasil membacanya dengan syahdu--layaknya penyair sungguhan tengah pentas. Di akhir aksinya, penonton pun memberi tepuk tangan panjang.
Itulah panggung seni yang digelar untuk sejumlah anak penyandang down syndrome di Mal Pejaten Village beberapa waktu yang lalu. Selain puisi, Intan menyanyikan beberapa lagu kesukaannya di atas panggung. "Intan adalah anak yang berbakat di bidang seni," ujar sang bunda, Maisi A. Tasmaan, yang juga Wakil Ketua Ikatan Sindroma Down Indonesia, kepada Tempo usai acara. Menurut Maisi, puisi itu asli dibuat sendiri oleh anaknya, walau sebelumnya dia ajari dulu.
Anak bungsu dari tiga bersaudara ini memiliki keistimewaan di antara penyandang down syndrome lainnya. Dia pernah bekerja sebagai staf bagian personalia selama dua tahun di PT Mangkurajo. "Sayangnya, sekarang perusahaan itu sudah pailit," kata Maisi. Dari pengalaman selama dua tahun, Intan menunjukkan bahwa dia bisa mengerjakan apa yang orang normal lakukan, seperti mengoperasikan komputer dan berselancar di dunia maya.
Maisi menceritakan, sejak usia delapan bulan dia mengajari putrinya itu berbicara. Sebelumnya, perempuan berusia 65 tahun ini tidak yakin dengan langkah-langkah yang diambilnya. Ia mengaku sama sekali tidak tahu cara menangani anak penyandang down syndrome. Namun, dia aktif baca buku dan kerja keras sepenuh hati, sehingga dia berhasil membuat Intan berbicara, walaupun masih tidak begitu jelas. "Kuncinya, tidak boleh memaksakan kehendak (kepada) sang anak," Maisi menjelaskan.
Lalu dia dan suami, Januar Tasmaan, pun terus menggali potensi Intan. Tampaknya, sedari bocah, putrinya itu menyukai bidang seni. "Dulu itu saya belikan satu set perlengkapan karaoke." Nah, dengan alat itu, Intan bisa mengekspresikan dirinya. Kuncinya, Maisi memperlakukan Intan seperti anak normal. Untuk itu, dia pun belajar memahami permasalahan suasana hati anak penyandang down syndrome, yang sulit ditebak. Ia mendidik Intan dengan melihat suasana hatinya terlebih dulu.
Sejalan dengan Maisi, di Negeri Ratu Elizabeth, Lucy Baxter--sang ibu dari Otto Baxter, penyandang down syndrome, 21 tahun--memperlakukan Otto sebagaimana pria sebayanya. Lucy meyakini, jika seorang individu mau menjadi bagian dari lingkungan sekitar, dia harus terlibat dalam lingkungan itu. "Saya mau dia melakukan hal yang sama seperti orang lain. Untuk itu, saya bersikeras mengirimnya ke sekolah umum," katanya dalam wawancara dengan Radio 5 BBC di acara Live''s Victoria Derbyshire Show beberapa waktu yang lalu.
Dalam perjalanannya, Lucy ingin Otto memiliki seorang pacar. Menurut dia, memiliki seorang pacar baik buat perkembangan mental putranya. Dari kisahnya, Otto menulis apa yang dipikirkannya tentang wanita bernama Hannah. Dia menulis, "Saya seharian berdua dengan dia dan pergi menonton ke bioskop dengannya." Walau akhirnya, sang pujaan--Hannah--cuma mau sebatas teman.
"Sayangnya, Otto terperangkap di antara dua dunia, dua budaya yang berbeda. Budaya Otto adalah di mana semua serba khusus dan dia diperlakukan sebagaimana anak kecil. Sementara itu, gadis tersebut sudah sangat sering diperlakukan seperti anak-anak," ujar Lucy.
Asep Chaeruloh, MM, pejabat fungsional Direktorat Pendidikan Masyarakat Komisi Pemberantasan Korupsi, pun menyatakan, untuk menumbuhkan kepercayaan diri anak penyandang down syndrome, sebaiknya mereka diperlakukan seperti anak normal. "Pengaruh eksternal--lingkungan--sangat membentuk kondisi mentalnya," ujarnya setelah menjadi pembicara dalam diskusi Hari Down Syndrome Sedunia di Pejaten Village beberapa waktu yang lalu. Dia menekankan, anak yang normal saja sebetulnya butuh perlakuan khusus dari orang tua mereka.
Untuk itu, kata Asep, orang tua harus multikompetensi. Mereka adalah satu di antara kelompok pendukung yang menjadi solusi dalam penanganan anak penyandang down syndrome. Mereka juga harus mendorong anaknya mengikuti berbagai aktivitas, seperti menari, bermain musik, berolahraga, dan terlibat dalam kegiatan sosial, sehingga mereka bisa hidup mandiri dengan kemampuan yang dimiliki. Apalagi para penyandang down syndrome ini juga memiliki hak yang sama dengan anak normal.
Adapun down syndrome dipicu oleh kelainan kromosom. Bila manusia normal mempunyai 23 pasang kembar kromosom, pada orang dengan down syndrome, salah satu kromosomnya--terutama kromosom 21--memiliki tiga kembaran. Berbeda dengan kromosom normal, yang hanya memiliki dua kembaran. Kesalahan penggandaan kromosom inilah yang mengakibatkan keterlambatan. Selain itu, komplikasi down syndrome disertai sejumlah penyakit, seperti jantung, perkembangan tubuh abnormal, leukemia, katarak, alzheimer, serta defisiensi antibodi.
HERU TRIYONO





