PLN Keluarkan Rp 1,5 Triliun Untuk Lindungi Nilai Dolar

TEMPO Interaktif, Jakarta: PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) akan melakukan hedging atau lindung nilai kebutuhan dolar untuk membayar utang yang jatuh tempo tahun ini. Langkah itu dilakukan untuk menekan resiko kerugian akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar.

Dengan cara ini, Perusahaan Listrik akan membayar premi ke perusahaan asaransi atau jasa keuangan. Jika nilai tukar dolar saat jatuh tempo di atas yang diperhitungkan, maka selisihnya akan dibayar asuransi.

"Kami akan mulai hedging bulan depan dan itu akan efektif dua bulan lagi," kata Direktur Keuangan PLN Setio Anggoro Dewo di kantornya, Jumat (17/4).

Tahun ini, Ia memperkirakan jumlah utang dalam dolar yang jatuh tempo sebesar US$ 6,6 miliar (Rp 71 triliun). Perusahaan akan melakukan hedging 50 persen dari total kebutuhan tersebut. Sebab biaya premi untuk bank akan terlalu besar jika semua kebutuhan di-hedging.

Setio menghitung dengan biaya premi dua persen, maka perusahaan harus mengeluarkan biaya sebesar US$ 140 juta ( Rp 1,5 triliun) untuk membayar premi. "Rasanya tidak ada perusahaan yang melakukan hedghing line sebesar itu," katanya.

Saat ini, perusahaan sudah melakukan beauty contest perbankan yang akan menjamin kebutuhan dolar tersebut. Setio mengatakan perbankan yang akan menjamin bisa berasal dari dalam negeri atau asing.

Dengan lindung nilai tersebut perusahaan berharap dapat menekan kerugian akibat selisih kurs. Tahun lalu, perusahaan mencatat kerugian akibat selisih kurs sebesar Rp 9,3 triliun.

Direktur Utama PLN Fahmi Mochtar dalam paparan laporan keuangan hari ini, menyatakan pendapatan perusahaan mencapai Rp 164,2 triliun atau naik 44 persen dibanding tahun lalu. Laba usaha naik 42 persen dibanding tahun sebelumnya menjadi Rp 3,6 triliun.

Ia menambahkan perusahaan berhasil mengurangi susut jaringan dari 11,07 persen menjadi 10,46 persen. Sehingga perusahaan berhasil mengefisiensi Rp 500 miliar.

Perusahaan juga mengefisiensi penggunaan bahan bakar minyak dengan percepatan penggunaan gas dan pengalihan high speed diesel menjadi marine fuel oil. Secara keseluruhan total efisiensi perusahaan pada tahun lalu mencapai Rp 4,98 triliun.

DESY PAKPAHAN