Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri bertemu dengan Ketua Umum PPDK Ryas Rashid (kanan) dan Capres dari PBR Rizal Ramli (kiri) di Jakarta,(16/4). ANTARA/Prasetyo Utomo
Infografis
Pendamping Mega, Penentu Kemenangan
TEMPO Interaktif, Jakarta: Pengamat politik Universitas Indonesia, Arbi Sanit, mengatakan tetap kukuhnya Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri mencalonkan diri sebagai calon presiden 2009, yang akan menghadang incumben Susilo Bambang Yudhoyono akan kesulitan.
Menurut dia, sejarah pemilu 2004 telah membuktikan Mega tidak mampu mengalahkan Yudhoyono. "Sekarang peluangnya tinggal pada ketepatan mencari pendamping Mega. Jika keliru akan mengalami hal yang sama," kata Arbi saat dihubungi, Jumat (17/4).
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Pramono Anung Wibowo mengatakan partainya tetap akan mencalonkan Megawati Soekarnoputri dalam pemilihan presiden 2009. ”Kami taat dan patuh pada aturan main. Keputusan terakhir partai telah menetapkan Ibu Mega sebagai calon presiden,” kata Pramono.
Menurut Arbi, calon pendamping Megawati yang mampu melawan Yudhoyono hanya Sultan Hamengku Buwono X. Alasannya, kata dia, Sultan mampu mempersatukan suara di Jawa dan menarik suara di luar Jawa. "Meski Sultan dari Jawa, tapi dia memiliki ikatan dengan masyarakat Jawa yang kini tinggal di luar Jawa," katanya. Apalagi, kata dia, dalam beberapa survei dan poling kombinasi keduanya memiliki dukungan yang cukup besar.
Kemungkinan calon pendamping lain, Arbi menilai masih kurang kuat. Dia mencontohkan Prabowo Subianto, justru akan membahayakan bagi Megawati. "Prabowo memiliki rekam jejak yang kontroversial. Bisa-bisa justru akan mengancam popularitas Mega," ujarnya. Prabowo, kata dia, memang memiliki amunisi yang kuat namun belum bisa menjanjikan. "Itu karena dia punya uang saja, popularitas Gerindra langsung bagus." Sedangkan calon dari Partai Golkar seperti Akbar Tadjung dan Surya Paloh, kata dia, juga tidak terlalu kuat apalagi kelihatannya Partai Golkar justru akan merapat ke Yudhoyono dan Partai Demokrat.
Terkait dengan gerilya Prabowo yang kemungkinan menjadi calon presiden alternatif, Arbi mengatakan akan sulit menang. "Dukungan syarat pengusung saja belum tentu terpenuhi," katanya. Kemungkinan menggaet partai tengah seperti Partai Amanah Nasional dan Partai Persatuan Pembangunan, menurut dia, belum ada jaminan partai itu akan dukung Prabowo. "Saya kira, mereka akan realitis memilih calon presiden yang dapat menang. Kemungkinan akan mengarah ke Yudhoyono, kalau tidak, pasti internalnya pecah," ujarnya.
Calon wakil presiden Yudhoyono, Arbi menilai, Yudhoyono tetap akan condong ke Kalla. "Alasannya kombinasi ini cukup bagus," katanya. Hanya, Arbi mengusulkan agar Yudhoyono membuat kontrak yang memberikan batas yang jelas aturan main koalisi. "Jangan sampai terjadi manuver yang membahayakan pemerintahan, baik wakil presiden maupun di parlemen," ujarnya.
EKO ARI WIBOWOgin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } -->







Web via