Topik
Bidan Langka di Kota Yogya
TEMPO Interaktif, Yogyakarta: Kota Yogyakarta masih kekurangan tenaga bidan, saat ini hanya ada 72 bidan sedangkan idealnya dibutuhkan 90 bidan. Sedangkan angka kematian ibu melahirkan turun dari tahun ke tahun.
“Kalau kematian ibu melahirkan akibat langsung sudah tidak ada, yang meninggal karena keracunan kehamilan (preeklamsi) atau penyakit lainnya,” kata Ummatul Baroroh, staf Kesehatan Keluarga dan Gizi, Dinas kesehatan ota Yogyakarta, Senin (20/4).
Dalam catatan Dinas, pada 2008 hanya ada satu kasus kematian ibu melahirkan, sedangkan 2009 juga ada satu kasus. Sedangkan kematian bayi sebanyak 28 bayi, 12 di antaranya meninggal karena lahir prematur dengan berat badan lahir rendah (BBLR) dari standar berat bayi normal, yaitu 2,5 kilogram.
Untuk kebutuhan kesehatan ibu hamil dan melahirkan, Puskesmas di kota Yogyakarta ada tiga puskesmas yang melayani rawat inap dan hanya ada 14 bidan di Puskesmas Mergangsan, 12 bidan di Tegalrejo dan 8 di puskesmas Jetis.
“Setiap bidan diberi pelatihan lagi soal penanganan APN (asuhan persalinan normal) dari proses melahirkan hingga pascakelahiran,” kata Baroroh.
Target ibu hamil dalam satu tahun pada 2008 sebanyak 5798 orang dan pada 2008 target mencapai 90,38 persen. Sedangkan sisanya melahirkan di kota lain atau melahirkan pada tahun berikutnya.
Untuk melaksanakan program desa siaga, pihak Dinas kesehatan juga menargetkan minimal satu bidan dalam satu kelurahan. Di kota Yogyakarta terdapat 45 kelurahan, semuanya sudah ada bidannya. Namun masih sangat dirasakan kekurangan karena umlah ibu hamil di perkotaan pada penduduk juga banyak.
Ia menambahkan, kematian bayi bisa terjadi akibat kekurangan O2 (oksigen), kelainan bawaan seperti hydrocephalus (kepala membesar) dan arencephalus (tak punya tulang tengkorak) dan penyakit jantung bawaan.
“Kalau terjadi keguguran karena kecapean, kelainan bawaan dan penyakit seperti virus dari binatang (toxoplasma),” kata dia.
Dinas kesehatan kota juga sedang gencar melakukan kampanye pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif kepada bayinya untuk kekebalan bayi supaya tidak rentan terhadap penyakit.
“Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan menjadikan bayi kebal dari berbagai penyakit,” kata Baroroh.
MUH SYAIFULLAH