Tambal Sulam di Rute Garuda
TEMPO Interaktif, Jakarta: PT Garuda Indonesia mulai bongkar-pasang rute untuk menyiasati kondisi perekonomian global. Sebagai pembukaan, maskapai pelat merah itu mulai 22 April menutup sementara layanan maskapainya ke Darwin, Australia.
Direktur Utama PT Garuda Indonesia Emir Syah Satar mengatakan perseroan harus memprioritaskan layanan penerbangannya ke rute-rute yang lebih potensial. "Dengan keadaan seperti ini, kami tidak bisa terbang ke tempat yang tidak ada penumpangnya," katanya ketika dihubungi Tempo.
Dia menilai maskapai akan merugi jika memaksakan terbang ke rute-rute yang sepi penumpang. Meski demikian, dia tak bisa memastikan kerugian selama mengoperasikan rute penerbangan yang dianggap kurang potensial.
Emir mencontohkan rute penerbangan ke Darwin yang dalam beberapa bulan terakhir jumlah penumpangnya terus merosot hingga 40 persen dari kursi yang tersedia. Alhasil, mulai pekan ini, perseroan memutuskan menutup sementara rute itu setelah 30 tahun membuka pelayanan. "Mungkin karena sekarang jarang orang sana pergi ke Bali karena krisis ekonomi," ujarnya.
Nasib lebih baik dialami penerbangan Garuda ke Bangkok, Thailand. Perseroan memutuskan hanya mengurangi jumlah layanan penerbangan dari setiap hari menjadi hanya tiga kali dalam sepekan.
Menurut dia, dengan penutupan dan pengurangan beberapa rute penerbangan, perseroan bisa menambah penerbangan ke beberapa rute potensial. Tujuan Kuala Lumpur misalnya, dari selama ini hanya sekali penerbangan menjadi dua kali penerbangan sehari.
Rute domestik yang dinilai potensial juga akan dikembangkan, seperti Jakarta-Denpasar-Kupang, Jakarta-Jambi, Jakarta-Malang, dan Jakarta-Tanjung Karang. "Pesawat kami terbatas, jadi hanya bisa menerbangkan ke rute potensial," kata Emir.
AGOENG WIJAYA