Produk Dibajak, US$ 1,8 Miliar Potensi Pendapatan Hangus

TEMPO Interaktif, BANDUNG:-Perwakilan Business Software Alliance Indonesia, Donny A. Sheyoputra mengatakan, maraknya pembajakan merupakan faktor utama minimnya perkembangan industri software di Indonesia. "Pembajakan telah menghapus kesempatan industri software lokal untuk meningkatkan pendapatan senilai US$ 1,8 miliar,"katanya saat jumpa pers di Bandung Selasa (21/4).

Ia menjelaskan hangusnya potensi pendapatan itu terjadi karena software produksi perusahaan-perusahaan lokal dibajak dan dijual seharga US$ 4 - US$ 5 di pasar. Bahkan, software yang sudah dijual seharga US$ 5 pun masih dibajak dan dijual US$ 2.

"Akibat lanjutya, pembajakan software telah meghilangkan potensi pendapatan pemerintah dari sektor pajak seilai US$ 88 "imbuh Donny.

Ia menandaskan, jika pembajakan tidak terus ditekan, reputasi Indonesia sebagai salah satu negeri pembajak software akan semakin parah. Berdasarkan laporan BSA dan International Data Corporation dalam Annual Global Piracy Study 2007, Indonesia adalah negara terbesar ke-12 di dunia dengan tigkat pembajakan software 84%.

"Persentase itu setara dengan kerugian sebesar US$ 411 juta di sektor software saja,"tandas Donny.

Maraknya pembajakan dibenarkan para pemilik perusahaan software lokal. Direktur Bamboomedia Cipta Persada, Putu Sudiarta menyatakan, dari lapora para distributor dan resaler, produk perusahaannya banyak dibajak.

"Jika produk asli dijual Rp 45 ribu maka produk bajakannya hanya dijual Rp 25 ribu,"aku bos perusahaan software untuk bisnis UKM, games dan pendidikan itu seperti dirilis dalam siaran Tim Nasional Anti Software Ilegal.

Muhamad Ismail, Direktur PT Zahir Interational mengaku piranti lunak aplikasi akuntansi buatannya dibajak dan dijual Rp 20 ribuan saja, padahal produk asli dibanderol Rp 1 hingga 15 juta.

"Akibatnya pertumbuhan usaha Zahir tak juga mampu melewati titik kritis pertumbuhan 50 persen,"akunya.

Meurut Indra Sosrodjojo, Direktur PT Andal Software Sejahtera, maraknya pembajakan juga berbuah persaingan usaha tak sehat diantara perusahaan lokal.

"Jika pembajakan terus ditekan, pertumbuhan perusahaan software lokal diyakini bakal meroket seperti Mocrosoft,"katanya.

ERICK P HARDI