Investor Asing Kembali Lirik Indonesia


Grafis Terkait

TEMPO Interaktif, Jakarta: Para ekonom menilai risiko Indonesia secara global membaik seiring posisi likuiditas negara yang meningkat dan pelaksanaan pemilihan umum yang lancar. Investor asing saat ini kembali melirik Indonesia dengan pertimbangan risiko yang rendah.

Analis Citi Group Global Markets Johanna Chua dan Leon Hiew mengatakan, hal itu terlihat dari penerbitan sukuk (obligasi berbasis syariah) global pertama Indonesia yang sukses dan permintaannya melebihi perkiraan hingga tujuh kali lipat dibandingkan nilai penerbitan sukuk US$ 650 juta.

"Perbaikan risiko global, posisi likuiditas, dan outlook positif atas kondisi politik pasca pemilu mendorong terjadinya kelebihan permintaan itu," kata Johanna dan Leon dalam siaran pers yang diterima melalui surat elektronik di Jakarta, Rabu (22/4).

Johanna berpendapat rupiah merupakan mata uang Asia dengan performa terbaik saat ini yang penguatannya mencapai 7,6 persen. Citigroup pun merevisi prediksi pergerakan rupiah ke level 11 ribu pada akhir kuartal dua 2009 dan menguat ke level 10.600 pada akhir 2009.

Survei Persepsi Pasar Bank Indonesia mengemukakan, pada kuartal kedua 2009, perekonomian hanya akan tumbuh 4,1-4,5 persen. Sementara laju inflasi bergerak di kisaran 8,1-9 persen dan neraca perdagangan mengalami defisit 0,1-1,5 persen dari PDB.

Ekspor dan impor barang diperkirakan akan menurun lebih dari sepuluh persen secara tahunan. Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan melemah hingga ke level Rp 11.501 hingga Rp 12.000 per dolar AS.

Bank sentral juga menyebutkan kondisi keuangan pemerintah diperkirakan masih akan mengalami defisit sekitar 2,1-2,5 persen dari pendapatan domestik bruto pada 2009.

Kepala ekonom PT Mandiri Sekuritas, Destry Damayanti mengemukakan, perekonomian Indonesia akan lebih baik dibandingkan negara-negara lain di kawasan Asia mengingat pasar domestik masih kuat untuk menopang roda perekonomian.

Terkait dengan pelaksanaan pemilihan umum, kepala ekonom di Bank Mandiri Group, Mirza Adityaswara, berpendapat pasar tidak terlalu menunggu hasil pemilihan presiden. Pasalnya, pasar sudah bisa menebak bakal calon pemenangnya.

Menurut Mirza, mengatakan kondisi peta politik domestik bisa ditebak pelaku pasar. Namun, kondisi pasar dalam beberapa bulan mendatang hingga pemilihan umum presiden pada Juli mendatang juga dipengaruhi situasi pasar global, sehingga kehati-hatian perlu dijaga.

EKO NOPIANSYAH

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X