Pemerintah Siapkan Patokan Harga Ekspor Minyak Sawit

TEMPO Interaktif, Jakarta: Pemerintah tengah menyiapkan standardisasi harga ekspor minyak kelapa sawit dalam negeri. Patokan harga ini diharapkan bisa menjadi standar harga perdagangan minyak sawit internasional.

Deputi Menteri Koordinator Perekonomian bidang Pertanian dan Kelautan, Bayu Krisnamurthi, mengatakan selama ini perdagangan minyak sawit internasional berpatokan pada pasar komoditas Rotterdam di Belanda.

Padahal volume ekspor minyak sawit Uni Eropa, kata dia, hanya mencapai 1,5 juta ton, sedangkan Indonesia bisa sepuluh kali lipatnya. Bahkan, hingga saat ini Indonesia menguasai 90 persen permintaan dunia atas kebutuhan minyak sawit.

"Menjadi negara produsen terbesar itu seluruh sistemnya harus kita yang punya. Sistem pasar dan perdagangannya harus Indonesa yang punya," kata Bayu di kantor Menteri Koordinator Perekonomian, Jakarta, Kamis (23/4).

Dengan mempunyai patokan harga sendiri, pasar dalam negeri tak akan terpengaruh fluktuasi harga di luar negeri. Rencananya, patokan harga ini bisa mulai diterapkan tahun ini.

Sebagian pedagang, kata Bayu, sudah menggunakan patokan harga ekspor Pelabuhan Belawan atau Pelabuhan Dumai. Harga rata-rata kedua pelabuhan tersebut akan dikombinasikan dengan harga lelang PT Perkebunan Nusantara dan beberapa pedagang besar. "Itu yang bisa dijadikan dasar perhitungan patokan," ujarnya.

Namun Bayu mengakui tidak mudah mengalihkan patokan harga minyak sawit internasional ke patokan harga dalam negeri. Negara lain pasti bereaksi. Oleh sebab itu, pemerintah harus menyiapkan regulasi untuk menopang rencana ini. Program-program revitalisasi perkebunan juga harus dioptimalkan untuk menjaga kualitas produksi dalam negeri.

Menurut dia, saat ini sistem sertifikasi eksportir kelapa sawit dalam negeri juga sedang disiapkan. Selama ini standar perdagangan kelapa sawit masih mengacu pada sistem perkebunan kelapa sawit berkelanjutan yang disusun Uni Eropa (<I>Round Table for Sustainable Palm Oil</I>). "Secara bertahap akan diubah dengan sistem ala Indonesia," ujar Bayu.

AGOENG WIJAYA