Ini Dia, Lagu Daerah yang Dituding Porno!
TEMPO Interaktif, Jakarta: Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Nusa Tenggara Barat (KPID NTB) sudah menetapkan lagu-lagu Sasak Lombok yang dinilai porno untuk dicekal. Jumlahnya mencapai 120 judul yang isinya mengandung muatan seks dan kata-kata kasar dalam berbagai versi kesenian lokal Cilokaq, Kamput, Dangdut Sasak hingga Ale-ale.
Menurut Wakil Ketua Komisi Penyiaran Daerah Nusa Tenggara Barat Sukri Aruman, dalam waktu dekat akan diumumkan daftar lagu Sasak bermasalah dan meminta lembaga penyiaran radio dan televisi di daerah ini tidak lagi menyiarkannya. "Apabila ditemukan penyiarannya, terbukti melanggar pedoman perilaku penyiaran dan standar program siaran," katanya.
Rencananya, Sabtu (25/4), Komisi Penyiaran Daerah akan menggelar diskusi khusus pengkajian lagu Sasak bermasalah dengan menghadirkan beberapa pembahas, di antaranya Saiful Muslim, perwakilan Majelis Ulama Indonesia NTB; Lalu Agus Fathurahman, perwakilan budayawan Sasak; Lalu Syafei, Kepala Dinas Departemen Pendidikan Nasional Kota Mataram; perwakilan Persatuan Guru Republik Indonesia NTB, serta aktivis perempuan dan anak.
Sukri menambahkan, penyelenggaraan diskusi tersebut untuk mendapatkan kajian komprehensif terkait lirik lagu bermasalah tersebut sehingga keputusan yang kita ambil tidak keliru. Lembaga penyiaran juga diminta senantiasa melakukan sensor internal terhadap segala bentuk materi siaran baik berupa lagu maupun siaran kata. "Sebelumnya sudah sudah banyak radio dan televisi lokal yang kita tegur agar memperbaiki program siaran mereka," ujarnya.
Rencana pencekalan lagu Sasak bermuatan porno tersebut didukung oleh Forum Peduli Nilai Seni dan Budaya Sasak (FPNBS) Lombok. Pencekalan itu dinilai sebagai langkah yang tepat, karena tidak sedikit lagu Sasak yang isinya sarat muatan seks dan pembodohan kepada khalayak terutama anak-anak.
Sekretaris FPNBS Lombok di Mataram, Yudi Yogaswara, dalam keterngan tertulinysa mengatakn banyak produser lagu Sasak yang mengabaikan prinsip kearifan budaya lokal dan nilai-nilai susila yang berkembang di masyarakat.
“Ini juga tidak terlepas dari selera pasar yang masih menyukai lagu-lagu yang liriknya konyol, lucu dan bermuatan seks," ucapnya. Sejumlah album VCD Sasak seperti Bisoq Botol dan Gile Gante penjualannya bisa menembus angka 50 ribu kopi, cukup tinggi untuk ukuran lagu daerah.
SUPRIYANTHO KHAFID
Web via