KPU Minta Maaf Terkait Tabulasi
TEMPO Interaktif, Jakarta: Komisi Pemilihan Umum meminta maaf tak mampu menayangkan hasil tabulasi nasional elektronik secara maksimal. Anggota Komisi Pemilihan, Abdul Aziz, mengakui, tabulasi nasional tak mampu memenuhi target menampilkan 70 persen suara.
“Kalau itu dianggap sebagai kegagalan dan tidak memenuhi harapan masyarakat, kami meminta maaf,” kata Aziz dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta, Jumat (24/4).
Menurut Aziz, kelambanan pemindaian dan penayangan terjadi karena sejumlah masalah. Terutama, menyangkut kendala di daerah yang lamban mengirim data atau data dari Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara sulit dibaca oleh sistem pengenal pintar karakter atau intelligent character recognition (ICR).
Sebelumnya, Komisi Pemilihan menargetkan menampilkan 80 persen suara nasional. Belakangan, target itu diturunkan menjadi 70 persen. Terakhir, anggota Tim Review Teknologi Informasi Komisi Pemilihan, Agung Harsoyo, mengatakan target hanya 26 juta dari 171,2 juta suara.
Tapi, hingga hari terakhir tabulasi elektronik, atau pada 21 April lalu, hanya sekitar 13 juta suara ditampilkan. Jumlah itu hanya sekitar 7,5-8 persen dari suara nasional.
Komisi Pemilihan, kata Aziz, juga kecewa dengan hasil tersebut. Tapi, Komisi akan tetap menyajikan. Ia menjanjikan tabulasi elektronik pada pemilihan presiden dapat berjalan lebih baik. Caranya, dengan memasukkan data secara manual. “Ada kemungkinan kami menggunakan jasa <i>out sourcing</i>,” katanya.
Meski demikian, Komisi tetap akan menampilkan hasil tabulasi elektronik. Komisi juga akan menayangkan hasil tabulasi manual yang akan digunakan dalam penetapan suara nasional. "Jadi nantinya akan ada dua jenis penghitungan yang kami tampilkan," jelas Aziz.
PRAMONO
Komentar (0)
Berita Terkait
Top Stories
Foto Terbaru
Editor's Choice
- Pengacara PKS Bungkam Soal Pelat Nomor Palsu
- Dahlan Iskan Semangati 10 Ribu Guru di Bogor
- Karena Cantik, Wanita ini Tidak Bisa Bekerja
- Wapres Barcelona: Mourinho Itu Momok bagi Spanyol
- Jokowi: Siapa Saya, Kok Dibikinin Film?
- Dugaan Korupsi Rp 700 Miliar, Menteri Nuh: Saya Pelajari
- Awak Pesawat Amerika Diizinkan Menginap di Aceh












