Topik
Investor Raih Laba 3-4 Tahun Lagi
TEMPO Interaktif, Nusa Dua:Permintaan dalam negeri yang masih kuat diyakini dapat menjadi pemicu keuntungan bagi para investor di Tanah Air. Beberapa indikatornya, kata Direktur Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat-Universitas Indonesia Chatib Basri adalah konsumsi dalam negeri yang telah mencapai batas bawah dan karenanya siap bangkit.
Selain itu, pertumbuhan produk domestik bruto tercatat sebesar 4,5 persen pada Maret 2009. Sedangkan pada kuartal keempat 2008 Indonesia masih tumbuh 5,2 persen, dan secara keseluruhan pada 2008 Indonesia tumbuh 6,1 persen. Pertumbuhan ekonomi ini, ujar Chatib, mendudukkan Indonesia pada peringkat ketiga dalam hal pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia setelah Cina dan India.
“Sehingga kalau investor berinvestasi sekarang, dalam 3-4 tahun mendatang akan menghasilkan keuntungan,” ucap dia dalam seminar Sustainable Invesment in Turbulent Time di Nusa Dua, Bali, hari ini. Seminar tersebut adalah bagian dari perhelatan Sidang Tahunan ke-42 Bank Pembangunan Asia (ADB) 2-3 Mei di tempat yang sama.
Meski begitu, Chatib mengakui tidak mudah menarik investor mendatangi Indonesia karena banyak faktor diantaranya krisis keuangan dunia ini telah menyedot dana para investor kembali ke negaranya masing-masing untuk memperbaiki neraca keuangan perusahaannya yang merugi.
Selain itu, pertumbuhan produk domestik dunia juga terkoreksi sangat dalam. Dia menyebutkan, pada Januari 2008, pertumbuhan ekonomi dunia masih sebesar 4,4 persen. Pada Oktober 2008 telah menyusut menjadi 3 persen, November 2008 berkurang menjadi 2,2 persen, Januari 2009 tinggal 0,5 persen, bahkan pada Februari 2009 diperkirakan sudah minus 0,5-1,1 persen.
Tapi Indonesia, sudah terbukti menjadi negara yang paling kecil terkena dampak krisis global. Ini, kata dia, disebabkan masih tingginya konsumsi dalam negeri yang didukung oleh jumlah penduduk sebanyak 229 juta jiwa.
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Muhammad Lutfi di kesempatan yang sama menuturkan, pemerintah sudah melakukan banyak pembenahan di sektor investasi dalam negeri. Salah satunya dengan memangkas lamanya perizinan dari sebelumnya 70 hari menjadi 10 hari saja.
“Bahkan di Batam,” ujar dia, “dimasukkan pagi, sore izin keluar. Dimasukkan sore, besoknya sudah selesai. Hasilnya, Indonesia yang 7 tahun lalu tidak masuk radar negara tujuan investasi kini menempati posisi ke-21 dari 25 negara-negara tujuan investasi. Bahkan di daftar negara tujuan investasi manufaktur Jepang, Indonesia bertengger di posisi ke-8.
Karenanya ia menyerukan calon investor yang hadir dalam seminar ini segera menanamkan modalnya. Sebab, banyak nilai tambah yang bisa dihasilkan dalam bumi Indonesia. Misalkan, kata dia, pengolahan bauksit (bijih alumuminium) menjadi alumina (konsentrat) akan menghasilkan nilai tambah 8 kali lipat, dan jika diolah menjadi aluminium akan menjadi 30 kali lipat.
EFRI RITONGA