Waria Rame-rame Demonstrasi Tolak Diskriminasi

TEMPO Interaktif, Yogyakarta: Mengaku sering mengalami kekerasan dan pelecehan dari satuan polisi pamong praja, sebanyak 80-an waria mengadu kepada anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Yogyakarta, Senin, (3/5).

Mereka minta anggota dewan lebih memperhatikan nasib para waria dan anak jalanan yang masih termarjinalkan di Kota Yogyakarta. "Kami merasa satpol pp masih melakukan tindakan represif terhadap kami yang mencari nafkah,” kata Agus Sugesti, Koordinator Suara Komunitas untuk Keberagaman (SUKMA) dalam pengaduan mereka ke anggota dewan.

Mereka ditemui Ketua Komisi D DPRD DIY, Nasrullah Krisnam dan berdialog selama sejam. Pada pengaduannya itu, Agus menceritakan, tercatat komunitas jalanan yang mengaku pernah dirazia sepanjang tahun 2009 ini sebanyak 227 orang, mengalami kekerasan 62 orang, mengaku dibuang di tempat yang jauh dari tempat nongkrong 33 orang, mengaku mengalami perusakan dan perampasan peralatan mengamen 70 kali perampasan.

Rully Mallay, salah seorang demonstran, anggota Keluarga Besar Waria Yogyakarta, meminta agar pemerintah mengakomodir semua perbedaan termasuk para waria dan anak jalanan. “Kami mengamen di jalan itu hanya sekedar mempertahankan hidup untuk hari esok, bahkan sering kelaparan,” ujar Rully. Kota Yogyakarta sebagai kota budaya yang menghargai perbedaan, kata Rully, diharapkan menjadi kota yang lebih bisa menerima perbedaan yang ada.

Atas pengaduan itu, Nasrullah minta agar Satpol menghentikan kekerasan yang dialami para waria.

Kepala Dinas Sosial Yogyakarta yang membawai satuan polisi pamong praja, Sulistyo, mengatakan tak ada niatan dari pemerintah untuk melakukan diskriminasi terhadap kaum waria. Sulistyo mengatakan, pemerintah provinsi mulai tahun anggaran ini malah akan memberikan bantuan modal bagi waria dan anak jalanan yang memiliki ketrampilan. Bantuan modal diberikan berupa alat-alat salon atau perkakas bagi yang ingin membuka warung.

BERNADA RURIT