Dana Sosialisasi Pemilu Presiden Rp 92

TEMPO Interaktif, Semarang: Ketua Komisi Pemilihan Umum Kota Semarang Hakim Junaedi mengaku kekurangan dana untuk sosialisasi pemilu presiden. Ini disebabkan jumlah pemilih yang mesti diberitahu bertambah 200 ribu lebih. "Kami kekurangan dana sosialisasi," kata Hakim kemarin. "Penambahan dana tidak mungkin dilakukan."

Jumlah pemilih pada pemilu legislatif lalu di Kota Semarang mencapai 1.087.463 orang. Diperkirakan, pada pemilu presiden nanti menjadi 1,3 juta. Adapun dana sosialisasi pemilu yang dianggarkan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara hanya Rp 120 juta. Dengan kata lain, sosialisasi untuk tiap pemilih hanya dianggarkan sekitar Rp 92.

Menurut Hakim, idealnya, biaya sosialisasi tiap pemilih minimal Rp 300, sehingga butuh sekitar Rp 390 juta. Untuk menyiasati kekurangan KPU Kota Semarang terpaksa mengurangi perjalanan dinas, mengurangi biaya kelompok kerja, dan penghematan dana konsumsi.

KPU Kota Semarang juga memanfaatkan kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah kota, kecamatan, dan kelurahan. "Kami mendompleng acara-acara pemerintah," ujar Hakim. KPU akan memanfaatkan pertemuan warga seperti pertemuan RT, RW, dasa wisma, serta PKK untuk mensosialisasi pendataan pemilih.

Meski ada penambahan jumlah pemilih yang cukup signifikan, jumlah tempat pemungutan suara (TPS) tidak akan ditambah.  Apabila pada pemilu legislatif tiap TPS digunakan untuk 350 pemilih, pada pemilu presiden mendatang digunakan untuk 500 pemilih. Penambahan jumlah pemilih berasal dari pemilih pemula serta pemilih dari luar daerah yang akan menggunakan hak pilihnya di Semarang, misalnya mahasiswa dan pekerja.

SOHIRIN