Bens Leo pada acara Reuni Alumni Majalah Anita Cemerlang di Jakarta, Minggu (15/2). (Tempo/Panca Syurkani;20090215)
Topik
Bens Leo: Ngeband Rock, Jazz, Melayu, Silakan Saja
TEMPO Interaktif, Jakarta : Persenyawaan antara musik pop dengan unsur musik Melayu yang dibawakan sejumlah band di tanah air. Belakangan aroma musik ini mengundang beragam tanggapan, khususnya di kalangan musisi. Di antara para musisi ada yang keberatan. Tak sedikit mereka yang sinis menyikapi kenyataan itu.
Ppendapat yang bernada positif tanpa bermaksud membela juga banyak. Pengamat musik, Bens Leo adalah salah satunya. “Saya tidak ingin memihak, tetapi secara obyektif, menurut saya, orang mau ngeband kemudian ada unsur Melayu atau unsur lain seperti rock, jazz, samba itu hal yang wajar dan biasa saja,” ungkapnya saat dihubungi Tempo, di Jakarta, Sabtu (09/05).
Pria kelahiran 8 Agustus 1952 ini memberikan satu contoh di genre musik Jazz, khususnya subgenre fusion. Di subgenre ini, ujar Bens yang ceking dan gondrong itu, paduan berbagai unsur musik justeru menimbulkan harmoni indah yang enak dinikmati. Walhasil, fushion menjadi subgenre tersendiri yang disukai penikmat musik Jazz.
“Fusion itu kan artinya perpaduan, persenyawaan yang padu. Sehingga, seperti musik lainnya, kalau musik pop kemudian disenyawakan dengan unsur lain, Melayu misalnya, wajar dan sah-sah saja. Di negara-negara barat hal seperti ini wajar dilakukan,” tandas Bens.
Namun, lanjut Bens, yang tidak boleh dilakukan adalah mengambil satu bagian dari lagu lain meski diaransemen ulang. Pasalnya, cara semacam itu sudah masuk kategori menjiplak yang tidak diperkenankan secara norma etika dan hukum.
Pria yang kerap menjadi juri di berbagai ajang musik itu, justeru mempertanyakan alasan menolak musik Melayu untuk dipadukan dengan aliran musik lain. “Kalau kita jujur, musik melayu itu adalah musik asli Indonesia. Akar musik Indonesia itu ya melayu. Jadi kalau ada band yang kemudian memadukan unsur ini wajar dan bisa dimaklumi,” tuturnya.
Malah, sebut Bens, band-band Indonesia seperti ST 12, di negeri jiran seperti Malaysia, Brunei Darussalam justeru digemari dan mendapatkan tempat di hati masyarakat negara-negara itu. Itu terjadi, lantaran mereka membawakan lagu-lagu Melayu dalam format moderen. Moderen? “Ya, sebab mereka kan membawakannya dengan band, bukan orkes Melayu,” jelas dia.
Musisi harus memiliki karakter yang menjadi identitasnya. “Misalnya, bila mengaku sebagai sebuah band ya tentu ciri sebuah band baik dari sisi instrumen maupun format pemainnya harus seperti umumnya band. Begitu pun soal musikalitas harus dipertahankan, bukan pure Melayu,” terang Bens Leo.
Lantas mengapa penolakan terhadap band yang bersenyawa dengan unsur musik Melayu begitu gencar? “Saya tidak menuduh, tetapi dari sinyalemen yang saya tangkap, ini persaingan antar mayor label (perusahaan rekaman-red) saja. Karena ternyata pasar menyukai lagu-lagu band yang bersenyawa dengan unsur Melayu itu. Tingkat penggunaan rings back tone (RBT), SD dan kaset lagu-lagu itu juga tinggi,” sebutnya.
Terbukti, lagu-lagu yang dibawakan penyanyi atau band lain yang memadukan unsur rock, samba, hip hop ternyata juga tak mendapatkan penolakan maupun kritikan sepedas lagu yang bersenyawa dengan unsur melayu. “Ya, pasar kita memang nggak sehat.,.,” kata Bens sambil tertawa.
ARIF ARIANTO
Web via