Ingkar Janji Kampanye, Bupati Banyumas Akan Diinterpelasi

TEMPO Interaktif, Purwokerto: Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Banyumas berencana menggelar sidang interpelasi untuk mempertanyakan kelanjutan proyek pembangunan pabrik bioetanol di Banyumas. Proyek tersebut merupakan bagian dari janji kampanye bupati saat akan maju dalam pemilihan bupati.

"Saat ini kami terus mencari dukungan teman-teman Dewan untuk menggelar interpelasi," kata anggota DPRD dari Fraksi PDIP, Kuntoro, Minggu (10/5).

Kuntoro mengatakan interpelasi itu dilakukan setelah Bupati Banyumas Mardjoko gagal merealisasikan janji kampanyenya untuk mendatangkan investor bagi pembangunan proyek pabrik bioetanol. Padahal, warga di sekitar lokasi pabrik sudah menanam singkong sebagai bahan baku pembuatan bioetanol.

Wakil Ketua DPC PKB Banyumas, Ahmad Ikhsan, mengatakan secara pribadi ia sangat mendukung DPRD untuk melakukan interpelasi. PKB sendiri merupakan partai pengusung Mardjoko saat pemilihan bupati tahun lalu.

"Saya optimistis interpelasi akan dilakukan, sekali pun ada voting dalam paripurna, sebab sebagian besar anggota Dewan sepakat bupati tidak bisa menepati janjinya semasa kampanye," ungkapnya.

Secara terpisah, Plh Sekretaris DPRD Banyumas, Purwandono SH mengatakan, sesuai tata tertib DPRD, interpelasi minimal diajukan oleh lima orang anggota, kemudian diajukan ke pimpinan Dewan, dan pimpinan Dewan mendisposisikan untuk melakukan paripurna.

Paripurna sendiri minimal harus dihadiri dua pertiga anggota DPRD. Keputusan akhir untuk melakukan interpelasi atau tidak tergantung dalam paripurna. "Dalam paripurna, lima orang pencetus interpelasi melakukan pemaparan dan ditanggapi oleh fraksi-fraksi. Selanjutnya akan diputuskan. Bisa jadi keputusan tersebut melalui voting perorangan," jelasnya.

Sementara Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Kabupaten Banyumas, Agus Nur Hadi, mengaku pihaknya siap menghadapi rencana interpelasi yang digagas Dewan. "Kita siap dengan pertanyaan Dewan terkait belum terealisasinya investasi bioetanol," kata Agus.

Mengenai belum teralisasinya pendirian pabrik, Agus mengatakan ada beberapa kendala sehingga sulit untuk mewujudkan program tersebut. Selain persoalan lahan yang belum memenuhi syarat, adanya krisis ekonomi global juga sangat mempengaruhi investor untuk menanamkan modal di Banyumas.

"Pendirian pabrik bioetanol akan tetap jalan, meski skalanya lebih kecil," imbuhnya.

ARIS ANDRIANTO