Topik
Dari Kebun Ginseng untuk Kesehatan
TEMPO Interaktif, Jakarta:Mangkuk berisi sup ayam itu mengepul. Kuah kaldunya yang sedikit keruh, mengantar samar-samar aroma ginseng. Penghiasnya adalah irisan daun bawang, angco - sejenis buah kering -- dan irisan tanduk rusa. Tentu saja, bahan-bahan itu bukan cuma pajangan semata karena akan membuat sup bercitarasa. Sajian ini samgethang, menu andalan Ginseng Garden, restoran Korea di FX Sudirman.
Sesuai namanya, semua menu di Ginseng Garden, memang khas Korea. "Semuanya menu otentik dari Korea." Kim Dong Hwan, pemilik restoran yang tak jarang memasak sendiri untuk pengunjung. Beberapa bumbu diimpor setiap pekan.
Kim, warga negara Korea Selatan itu membuka restorannya enam bulan lalu. Mantan chef Hotel Westin di Seoul itu memilih Jakarta, bukan Kuala Lumpur atau yang lain bukan lantaran alasan serius. "Saudara perempuan saya kuliah di Universitas Indonesia," ujar Kim riang, Rabu lalu. Agaknya ia kepincut Jakarta dari cerita saudaranya.
Meski begitu, Kim serius menggarap restorannya. Sebelum membuka restoran, Kim melakukan riset kecil-kecilan. Ia mendatangi restoran-restoran Korea di Jakarta yang rata-rata sasarannya ekspatriat asal Korea, meski sebagian pengunjungnya orang Indonesia. Karenanya, Kim berfikir sebaliknya: menyajikan masakan Korea untuk orang Indonesia.
"Saya ingin memperkenalkan makanan dan cara makan orang Korea yang berbeda dengan Indonesia," ujar lelaki 35 tahun itu. Ia mengamati dan memilih menu yang disukai orang Indonesia. Sehingga, menu-menu yang disajikannya di Ginseng Garden adalah yang disukai orang Indonesia. Selain Samgethang yang menjadi andalannya, menu jagoan lainnya adalah Bulgogi Dolsot Bibimbap-- yang telah terkenal di seluruh dunia -- dan mandu, sejenis sup bola daging dibalut telur.
Bibimbap berbahan dasar nasi putih yang ditutup aneka sayuran tumis dengan sangat sedikit minyak, irisan tipis daging panggang dan telur. Sayurannya wortel, jamur, tauge, cukini dan sayur sejenis bayam Korea. "Orang Korea sangat suka sayuran," ujar Kim. Di atas sayuran, ditabur irisan daging sapi dan telur.
Bibimbap disajikan dalam mangkuk baja panas. Sebelum makan, isi mangkuk harus diaduk sehingga semua bahan di dalamnya tercampur. Dengan mencampur semua bahan, efek mangkuk panas juga merata pada semua bagian makanan.
Meski bibimbap sarat aneka bahan makanan, rasanya tak akan ramai seperti Nano-nano. Rasa bahan-bahan itu nyaris seperti rasa aslinya lantaran sayuran, daging dan telurnya mengandung sangat sedikit garam. Bahkan, rasa asin garam nyaris tak terasa. Untuk memperkaya rasa, bibimbap dimakan dengan kimchi yang terbuat dari bumbu-bumbu yang difermentasi, saus dan acar. Saus, acar dan kimchi, membuat bibimbap lebih bercitarasa. "Kimchi-nya enak, segar sekali," ujar Joice, Jumat siang lalu.
Sebagai pendamping bibimbap, Ginseng Garden menyediakan sup rumput laut. Rasanya ringan, pas untuk "membasuh" mulut.
Memperkaya citarasa makanan setelah dihidangkan juga berlaku ketika menyantap samgethang. Sup ini biasa dinikmati "satu- per satu". Ayam yang dimakan tanpa kuah, dicocolkan ke garam yang disediakan secara terpisah. Jika suka, garam cocolan bisa ditambah dengan bubuk lada.
Ayam juga biasa dimakan dengan ginseng, bumbu dalam sup itu. "Ginseng membuat rasa ayam, atau apa pun menjadi lebih lezat," kata Kim. Rasa ginseng yang aneh di lidah kebanyakan orang Indonesia, memang seketika menjadi lezat ketika berpadu dengan ayam. Setelah ayam habis, giliran kuah sup yang ditaburi garam, lalu dihirup.
Hanya, kata Joice, samgethang yang dimakannya tidak seperti yang diharapkannya. "Rasa samgethang yang pernah saya makan di negeri aslinya lebih kuat. Enak dinikmati ketika cuaca dingin," kata Joice yang berkantor di sekitar Jalan Sudirman, Jakarta, itu.
Tak hanya sup bercitarasa segar dan bibimbap, Ginseng Garden menawarkan sup yang terasa pedas-asam seperti tteokbokki dari kue beras, japchae yang mirip cap cai yang biasa kita kenal tapi dicampur dengan soun dan irisan daging sapi, dan ginseng bulgogi rice. "Secara umum, sajian Ginseng Garden otentik," ujar Joice.
Untuk minumannya, bisa dipilih Yujacha dan sikhye. Minuman ini dibuat dari jeruk lemon berikut kulitnya dengan tambahan kacang Korea. Jangan khawatir pahit, karena kulit lemon yang diiris halus justru memperkuat citarasa lemon. Sedangkan sikhye terasa mirip wedang tape ketan. Hanya, rasanya lebih lembut.
Restoran ini relatif ramai di akhir pekan. "Di akhir pekan pengunjungnya kebanyakan keluarga," ujar pelayan Ginseng Garden. Sambil makan, pengunjung restoran bisa menikmati pemandangan gedung-gedung bertingkat di skitar Jalan Sudirman atau lapangan soft ball Senayan yang tepat di seberang Ginseng Garden.
ENDRI KURNIAWATI
Web via