Tragedi Gerda dan Didi  

Tragedi Gerda dan Didi  

Tempo/Adri Irianto

TEMPO Interaktif, Jakarta: Nisan-nisan tua. Makam bertanda salib. Seorang lelaki berambut awut-awutan muncul. Rambutnya yang panjang keabu-abuan seolah lama tidak dicuci. Ia memakai sepatu bot. Mengenakan pakaian berlapis-lapis yang kumal.

"Di sinilah aku bebas bermain musik," katanya. Suaranya bertenaga. Di antara makam-makam itu ia berpura-pura menggesek cello. Dan dari belakang terdengar suara cello, tepat dengan gerakan tangannya.

Itulah pertunjukan Gerda, adaptasi sutradara Asep Budiman dari kronik-kronik dan sketsa kehidupan di Batavia karya pengarang Tjalie Robinson. Lantai panggung Erasmus Huis, Jakarta, sebagian ditata seolah pekuburan. Sementara itu, para pemusik dan seorang dalang wayang golek duduk di atas auditorium.

Adalah menarik untuk memperingati 35 tahun wafatnya wartawan dan sastrawan Indo-Belanda, Tjalie Robinson, sutradara Bandung, Asep Budiman, mengangkat dua cerpennya dalam bentuk drama. Tjalie--seorang blasteran--terkenal karena kemampuannya menyajikan cerita berlatar konflik keluarga masyarakat berdarah campuran di Indonesia pada era sebelum 1945.

Ia sering memakai nama samaran Vincent Mahieu atau Jan Boon. Dua kumpulan tulisannya, Cis dan Cuk, pernah diterjemahkan H.B. Jassin. Tjalie sendiri, setelah Indonesia merdeka, memilih tinggal di Belanda. Sebuah tempat yang dianggap tak seindah dalam bayangannya dan membuat dia sering merasa kangen dengan Indonesia. Untuk mengobati kerinduannya, ia membuat Pasar Tong Tong--sebuah festival untuk mengenang zaman indah kehidupan masyarakat indie di Indonesia yang diselenggarakan tiap tahun dan bertahan sampai kini. Tahun ini Festival Tong Tong berlangsung dari 21 Mei sampai 9 Juni 2009.

Dari kumpulan Cis dan Cuk, Asep Budiman memilih kisah tragedi yang menimpa dua perempuan: Gerda dan Didi. Babak pertama menceritakan Gerda. Gerda adalah perempuan yang senang berpetualang. Sehari-hari, dia bergaul dengan lelaki dan senapan. Ia jatuh cinta kepada Tuan Barres, seorang guru musik dan pemain cello yang hidup menggelandang serta hidupnya berakhir setelah tenggelam terisap rawa.

Aktor Rusli Keleeng yang memainkan Tuan Barres sesungguhnya seorang diri saja mampu menghipnotis penonton. Ia tangguh. Ia tampak sanggup memainkan naskah ini secara realis dengan kuat. Namun, sedari awal Asep Budiman menginginkan pertunjukan sebagai sebuah pertunjukan multimedia surealis yang menggabungkan unsur teater, musik keroncong, wayang golek, dan tari. Begitu masuk, penonton sudah dihibur musik keroncong. Ini untuk mengingatkan bahwa setahun setelah Tjalie Robinson meninggal pada 1974 di Belanda, abu jenazah Tjalie ditaburkan di Teluk Jakarta sambil diiringi musik keroncong.

Tokoh Gerda mulanya ditampilkan berjalan mengendap-endap menuju sebuah semangka. Setelah mencuci kakinya dengan air dari kuali di samping makam, dia kemudian, prek! Ia membanting semangka itu hingga pecah. Panggung seketika gelap. Seorang perempuan berpakaian putih panjang kemudian duduk di lantai. "Namaku Cuk. Aku sekolah di sekolah 9. Di sekolahku banyak anak bangsawan yang turun derajatnya," katanya dengan sorot mata lurus ke depan.

Asep tampak bersemangat, namun ia tak mampu meramu pertunjukan menjadi sebuah pertunjukan yang solid. Antara permainan wayang golek, video yang menayangkan gambar-gambar Batavia tempo dulu, dan keaktoran Rusli Keleeng belum terjalin menjadi sesuatu yang menggigit.

Babak kedua menceritakan kisah Didi. Ia seorang perempuan muda yang harus dewasa sebelum waktunya. Suaminya adalah tentara Belanda yang hengkang dari Indonesia setelah Jepang masuk menjajah. Saat ditinggal pergi, Didi dalam keadaan hamil. Penderitaannya berlanjut hingga akhirnya ia meninggal setelah mengalami perdarahan otak akibat ditendang tentara Jepang.

Panggung menampilkan sebatang pohon ranggas. Lantai ditaburi batu-batu putih. Laki-laki itu datang mengenakan topi pet. Ia diperankan oleh Judas Erlangga. Lalu mereka berdua, sang laki-laki dan Didi, berbicara tentang apa arti cinta dan perkawinan. "Apa yang diharapkan dari perkawinan," kata sang lelaki. Permainan Judas menunjukkan bahwa teater ini memiliki stok aktor yang mampu memainkan realisme secara baik. Pertunjukan kedua lebih simpel. Lebih sederhana. Lebih membuat kita membayangkan pada apa yang ditulis oleh Tjalie Robinson.

SENO JOKO SUYONO | ANWAR SISWADI

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X