Topik
Betah Minum Teh di Kedai Teko
TEMPO Interaktif, Bandung: Bandung dikepung awan mendung. Percikan kilat dan dentuman suara guntur di langit muncul saling menyusul. Pada sore yang hampir gelap, pekan lalu, itu saya melenggang ke kawasan Ciumbuleuit, Bandung, untuk berwisata kuliner ria.
Saya memilih Kedai Teko, yang beralamat Jalan Neglasari 4, Ciumbuleuit. Sebuah kedai rumahan dengan furnitur sederhana yang kuno laksana di rumah nenek.
"Selamat datang di Kedai Teko," kata Tetsi Satmoko Waworoentoe, 82 tahun, menyapa saya. Sambutan hangat nan ramah.
Tanpa membuang waktu, saya segera meminta daftar menu. Duduk di sebuah balkon yang menghadap ke taman dengan susunan meja yang sangat country alias ndeso, rasanya sangat nyaman. Chai tea menjadi pilihan saya sore itu. Untuk menemani seruputan teh, saya memesan poffertjes, pancake dari Negeri Kincir Angin yang dilumuri gula merah dan gula bubuk.
Pesanan datang, kepulan asap dan aroma teh keluar dari teko yang menjadi ciri khas penyajian di kedai ini. Saya mencoba melongok apa yang ada di balik kepulan itu, ternyata memang rajangan rempahnya membaur begitu saja dengan teh yang sudah tercampur susu. Sangat menyegarkan. Tuangan pertama saya sangat istimewa, dengan saringan agar rempah tak ikut terminum, teh pun siap diseruput. Rasa gurih mampir pertama di lidah, manis, dan kemudian hangat di tenggorokan.
Chai tea merupakan teh khas India yang dicampur susu dengan bubuhan kayu manis, cengkeh, dan jahe. Banyak pelanggan memesan teh macam ini. Chai tea dijadikan menu andalan. Karena itu, menurut Tetsi, chai tea memang dibuat lebih istimewa di antara banyak varian teh. Selain menyajikan varian minuman teh lokal, Kedai Teko menyuguhkan teh dari mancanegara. Sebut saja teh Turki, teh obeng Singapura, teh hijau Jepang, atau teh sarapan dari Inggris. Semuanya terangkum dalam 20 lebih varian teh.
Setelah chai tea, saya menikmati poffertjes, camilan berupa kue tradisional khas Belanda. Dihidangkan panas langsung dari wajan panggangan, dilengkapi dengan kinca (gula merah cair) dan gula halus, pas sekali untuk menemani nikmatnya menyeruput teh di tengah udara dingin. Rasa manis gula merah cair pun legit meresap ke dalam poffertjes yang terasa gurih. Tambah manis apabila dicocol gula pasir.
Kedai ini juga menyediakan pasta, ravioli, sandwich, aneka masakan nasi goreng, dan sup. Semua diracik dengan resep rumahan, resep yang didapatkan Tetsi dari hobinya membaca, termasuk resep poffertjes yang didapat dari buku kuno berbahasa Belanda terbitan sebelum 1911. "Saya senang baca soal racikan masakan dan resep," ujarnya.
Harga makanan dan minuman di kedai yang kerap menjadi tempat kongko mahasiswa ini cukup terjangkau.
Para pengunjung Kedai Teko kebanyakan pelanggan tetap. Tetsi mengaku tidak pernah melakukan promosi. Kenikmatan kedainya hanya diketahui orang melalui mulut ke mulut. Karena itu, tak ada papan nama besar di depan kedai.
Bagaimana ceritanya Kedai Teko bermula? Tetsi mengaku tak pandai memasak dan tak pernah punya keinginan mengelola kedai. Dia hanya seorang ibu rumah tangga yang sempat mengenyam pendidikan di Utrecht, Belanda. Empat anaknyalah yang memaksa Tetsi membuat kedai. Pada 1996 kedai berdiri. "Agar saya terus berkegiatan," kata oma yang sudah memiliki tujuh cucu ini.
Konsep Tetsi dalam membuat kedai sangat sederhana, dengan modal awal hanya Rp 3 juta. Dia hanya ingin dirinya dan pelanggannya senang dan nyaman. Yang baru pertama kali datang ke kedainya tidak merasa canggung. Pendekatannya dengan cara berbincang dengan pengunjung membuat suasana jauh lebih intim. "Kita semua cari senang, toh?" kata mantan guru bahasa Belanda di Universitas Parahyangan, Bandung, itu.
Selain itu, di kedai ini, selain menikmati teh, pengunjung bisa mendengarkan sejarah teh dari Tetsi. "Saya tahu sedikit soal sejarah teh, dan semua yang ingin tahu bisa ngobrol soal teh di sini," ujarnya dengan sedikit merendah.
Sore semakin gelap saat semua hidangan tandas. Namun, nikmatnya menu di kedai ini masih terasa, begitu pula keramahan nenek manis berkacamata itu.
SANDY INDRA PRATAMA
KONSEP:- Pelanggan dibuat senang dan nyaman. Yang baru pertama kali datang pun tidak merasa canggung. Agar suasana jauh lebih intim, pengelola mengajak pengunjung mengobrol akrab, termasuk berbincang-bincang tentang sejarah teh.
RESEP:- Chai tea dibuat dari teh beraroma kuat, kayu manis, cardamon, cengkeh, jahe, dan gula.
MENU:- Minuman: chai tea sebagai menu andalan, beberapa varian minuman teh lokal dan teh mancanegara, seperti teh Turki, teh obeng Singapura, teh hijau Jepang, atau teh sarapan dari Inggris. - Makanan: poffertjes, pasta, ravioli, sandwich, aneka masakan nasi goreng, dan sup.
HARGA:- Satu teko chai tea sekitar Rp 20 ribu. - Satu wajan penuh poffertjes Rp 20 ribu.
Laksmana Mulia, 31 tahun, pengunjung "Tempat yang cocok untuk menyatakan cinta."