Dua Pulau di Bengkulu Tenggelam

TEMPO Interaktif, Bengkulu: Pulau Bangkai, seluas 10 hektare, dan Pulau Satu, seluas 2 hektare, yang berada di Kepulauan Enggano, Bengkulu Utara, Bengkulu, tenggelam akibat abrasi.

"Hanya kelihatan pasirnya saja jika sedang pasang kering," Kata M Rafli Zen, Ketua Adat Kepulauan Enggano, kepada Tempo, Sabtu (23/5).

Kedua pulau ini tidak berpenghuni, namun kerap dijadikan persinggahan bagi nelayan dari berbagai provinsi dan juga luar negeri.

Para nelayan dari luar Enggano disinyalir menjadi penyebab utama tenggelamnya Pulau Bangkai dan Satu. "Banyak nelayan yang singgah menebang pohon kelapa seenaknya," ujarnya, "padahal, pohon tersebut bukan hanya sumber penghasilan warga, tapi juga berfungsi sebagai penahan ombak."

Sejak tahun 1960-an kedua pulau itu dijadikan perkebunan kelapa oleh masyarakat lokal. Namun, karena tidak ada masyarakat lokal yang menetap di sana, maka mereka tidak bisa mengawasi terus-menerus aktivitas nelayan yang sedang singgah.

Selain itu, rusaknya terumbu karang akibat banyaknya nelayan yang menggunakan bom untuk mencari ikan, juga menjadi faktor penyebab cepatnya kedua pulau tersebut hilang. "Otomatis tidak ada lagi yang menahan terjangan ombak yang mengarah ke pulau," kata Rafli.

Saat ini Kepulauan Enggano masih menyisakan satu pulau utama, yaitu Pulau Enggano, dengan luas yang kian menyusut. Jika pada tahun 1960-an luas Pulau Enggano mencapai 45x18,5 kilometer persegi, saat ini sudah berkurang menjadi 40x17 kilometer persegi. Selain itu, masih ada dua anak pulau lain, yaitu Pulau Dua seluas 11 hektare dan Pulau Marbau seluas 7 hektare.

Untuk mengurangi dampak abrasi, warga dan lembaga swadaya masyarakat telah melakukan penanaman pohon bakau sebanyak 500 batang di pesisir pantai Pulau Enggano.

Masyarakat mengaku sudah pernah meminta bantuan kepada Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara untuk dibuatkan pemecah ombak, namun belum ditanggapi.

Sementara itu, Ketua Pengurus Wilayah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Bengkulu, Haitami Sulani, mengatakan, selain persoalan abrasi, Kepulauan Enggano saat ini masih jauh tertinggal dibandingkan daerah lainnya di Provinsi Bengkulu.

"Belum ada aliran listrik dan jalur transportasi yang rusak parah," ujarnya. Padahal, kepulauan ini punya banyak potensi untuk berkembang, antara lain udang lobster, perkebunan kakao dan kelapa.

Kepulauan Enggano merupakan salah satu pulau terluar di Indonesia dengan penduduk lebih dari 2.900 jiwa. Ada lima suku utama di kepulauan itu, yaitu Suku Kaitora, Ka''uno, Ka''arubi, Ka''aruga, dan Ka''anua.

HARRI PRATAMA ADITYA