foto

TEMPO/Nickmatulhuda

Permadani Tak Sekadar Alas Kaki

karpetTEMPO Interaktif, Jakarta: Masih ingat pasangan bintang Brad Pitt dan Angelina Jolie saat melenggang mesra di red carpet perhelatan Academy Award 2009 di Kodak Theatre, Los Angeles, Amerika Serikat, Februari lalu?

Di hamparan permadani merah, penampilan memukau mereka bagai magnet bagi khalayak. Bukan cuma Pitt-Jolie, selebritas papan atas lainnya bak berlomba menampilkan gaya terbaik dan terbarunya demi menjadi pusat perhatian.

Ya, red carpet memang menjadi area nan megah yang wajib ada saat perhelatan akbar digelar. Bukan cuma di mancanegara, di Indonesia pun panitia acara kerap menggelar karpet merah bila mengundang para pesohor.

Bagi kaum awam, karpet mungkin bukan sebuah kebutuhan primer. Karpet hanya menjadi sebuah alas keramik yang digelar di ruang keluarga atau hiasan rumah yang digelar di ruang tamu sehingga ruangan lebih cantik. Namun, bagi masyarakat kalangan menengah-atas, karpet atau permadani adalah barang penting yang wajib dimiliki untuk melengkapi desain interior rumah.

Seperti diungkapkan Tieka, 40 tahun, warga Cinere. "Tiap tahun saya mengganti karpet di rumah. Terutama di ruang tamu dan ruang keluarga. Biar lebih fresh aja," ujarnya. Selain agar suasana lebih segar, sering bertandangnya kolega sang suami dan keluarga ke rumah membuat ibu dua anak ini rajin berburu serta mengganti karpet. "Juga menjaga kredibilitas suami di depan koleganya."

Tieka tak sendiri. Hal itu juga dilakukan ibu-ibu rumah tangga lainnya yang kebetulan suaminya punya jabatan lumayan tinggi. Karpet bukan lagi menjadi alas lantai, namun telah menjadi dekorasi yang akan memberi nilai lebih bagi si empunya rumah, seperti untuk wallpaper, tirai, hingga alas tempat tidur.

Karpet tak melulu berbahan wol hasil pabrikan dengan motif standar, seperti bunga. Ternyata karpet yang terbuat dari pintalan atau rajutan wol bulu domba asli dengan motif yang unik lebih diburu para kalangan papan atas. Pasalnya, karpet yang terbuat dari materi itu lebih terasa nyaman saat kita menyentuhnya dibandingkan dengan karpet hasil mesin pabrik.

Menurut H. Malik, M.A., pemilik Al Malik Karpet, karpet terbaik berasal dari Iran atau Persia. Selain motifnya yang unik, karpet dari Iran terbuat dari pintalan bulu domba yang lembut. Serta menggunakan bahan pewarna alami yang terbuat dari akar-akaran.

"Karpet dari Iran atau Persia lebih lembut karena berbahan dasar dari wol bulu domba, kambing, atau unta. Dan hasil buatan tangan, bukan mesin," ujarnya di showroom-nya di Jakarta Selatan beberapa waktu yang lalu.

Bicara permadani, pastinya terbayang soal motif. Motif bunga dan abstrak menjadi motif yang awam dijumpai. Secara umum, motif karpet dibedakan atas dua jenis, yakni klasik dan modern. Motif klasik biasanya memiliki banyak hiasan. Hal ini dapat dilihat pada karpet dari Persia, mulai motif floral, geometrik, sampai motif kombinasi. Adapun motif modern terlihat lebih sederhana, hanya perpaduan garis dan warna yang lebih tegas. "Motif klasik biasanya menjadi incaran para kaum papan atas karena terlihat lebih elegan dan tidak pasaran," kata Malik.

Karpet yang terbuat dari serat alami atau hasil buatan tangan memang memberi nilai lebih. Menguatkan aksen lebih mewah, namun tetap natural. Sementara itu, bahan karpet yang menjadi incaran kaum papan atas yakni karpet berbahan sutra atau wol dari bulu domba, kambing, dan unta.

Untuk tahun ini, Malik melanjutkan, karpet berwarna abu-abu menjadi incaran, sedangkan nuansa biru dan merah juga menjadi idaman untuk karpet yang akan dijadikan hiasan wallpaper.

Al Malik Karpet menyediakan beragam jenis karpet, dari karpet tabrish pintalan dan mesin, karpet Nahin Sisal serta Nahin Nola, hingga karpet KUM yang merupakan karpet terbaik di Arab. "Kami juga menyediakan koleksi karpet terbaik dari Pakistan, India, Afghanistan, Turki, dan Cina," dia memaparkan.

Seiring gerak mode dan zaman, tekstur karpet pun beragam. Bukan cuma dengan permukaan yang terpotong rapi, karpet pun berkembang. Mulai karpet dengan bulu-bulu bergulung, ikal, hingga kombinasi keduanya. Dan yang paling baru adalah karpet dengan tekstur bulu-bulu keriting, panjang, dan lebat. Karpet jenis ini sungguh empuk saat disentuh.

Soal harga, masing-masing karpet berbeda, tergantung jenisnya. Karpet dengan bahan wol atau sutra pintalan jauh lebih mahal dibandingkan dengan hasil buatan pabrik. Selain waktu pembuatannya cukup lama, karpet handmade lebih unik dan berbeda. Di Jakarta, misalnya, karpet buatan tangan dibanderol seharga Rp 2 juta hingga ratusan juta rupiah. Nah, Anda ingin mempercantik rumah dengan permadani indah?

IKA SARI