Topik
Pameran Hypertext di Tembi Contemporaty Gallery
TEMPO Interaktif, Yogyakarta: Kanvas berukuran 180 x 300 centimeter itu dipenuhi dengan huruf-huruf latin patah-patah. Ada juga coretan-coretan mirip benang ruwet di bebarapa bagian. Ditambah blok-blok warna merah dan coklat yang seperti tertumpah tak sengaja, membuat lukisan itu seperti coretan anak-anak di dinding rumah yang kemudian dipindahkan ke atas kanvas.
Berawal dari kerinduan perupa Deddy Sufriadi, 33 tahun, terhadap masa kanak-kanaknya, maka lahirlah lukisan berjudul “Childish” yang bergaya abstrak itu. “Childish” adalah satu dari 14 lukisan karya Deddy yang bisa dinikmati dalam pameran bertajuk “Hypertext” di Tembi Contemporary Gallery, Bantul, 2-20 Juni 2009.
“Dari 25 karya yang saya siapkan untuk pameran, Childish adalah satu-satunya lukisan yang teks-teksnya saya buat dengan tangan kiri. Saya selalu gagal menghadirkan tulisan bergaya anak-anak jika menggunakan tangan kanan,” jelas alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta tahun 2004 itu.
Dari 25 lukisan yang disiapkan Deddy untuk pameran di Galeri Tembi Contemporary ini, akhirnya hanya 14 lukisan yang bisa dipajang. Selain karena keterbatasan ruang pamer, 14 lukisan itu dinilai telah mewakili kisi-kisi kurasi oleh Netok Sawiji Rusnoto Susanto. Semua lukisan karya Deddy itu menggunakan tulisan atau teks sebagai elemen estetiknya.
Sebelum mapan dengan gaya lukisannya saat ini, Deddy harus melalui pergulatan panjang. Sejak tahun 1996 sampai 2000, saat ia masih di bangku kuliah, Deddy sudah mulai menggunakan teks sebagai elemen pendukung karya lukisnya. “Ada beberapa bagian yang tidak bisa dijelaskan dengan gambar, akhirnya saya jelaskan dengan teks,” katanya.
Inilah periode pertama karir Deddy sebelum akhirnya ia pindah ke gaya abstrak total, tanpa bentuk, tanpa teks. “Non figuratif total,” katanya. Priode ini berlangsung dari tahun 2000 hingga 2006.
Jenuh melihat booming seni lukis yang didominasi realisme kontemporer, Deddy akhirnya kembali menoleh ke gaya lama yang memanfaatkan teks sebagai elemen estetik. Namun, kali ini Deddy memperlakukan teks dengan cara yang berbeda. “Pada periode awal, teks yang saya bikin memang tujuannya menyelesaikan sesuatu. Artinya, teks yang saya bikin itu memang naratif, bisa total dibaca. Dengan membaca teks orang paham apa yang saya inginkan,” jelasnya.
Pada periode awal itu Deddy juga masih sering memindahkan naskah di buku ke atas kanvas. Dalam perkembangannya, disadari cara seperti itu tidak praktis. “Saya berpikir, kenapa harus textbook banget. Kenapa nggak mencoba bikin teks sendiri,” katanya.
Saat ini, teks-teks dalam lukisan Deddy terkadang sudah tidak bisa terbaca maknanya lagi. Bagi Deddy, karakter huruf adalah elemen yang artistik dan tidak perlu lagi dibebani dengan makna dan tema tertentu. “Teks-teks pada lukisan saya kemudian tidak naratif lagi, tapi lebih pada goresan teks itu sendiri,” jelasnya.
Deddy juga tak perlu lagi terbebani dengan tema tertentu untuk menghasilkan sebuah karya lukis. Apa yang terlintas dalam pikirannya kemudian digoreskan di kanvas. Kadang, teks yang sedang dituliskan di kanvas dicoret lagi karena ketertarikannya sudah berpindah ke hal lain.
Teks-teks yang dicoret itu bisa dilihat misalnya pada karya berjudul “You Can Take This Season”. Teks yang dicoret itu, menurut Deddy, selain mencerminkan dinamika kreatif, sekaligus bagian dari persoalan artistik.
Tidak banyak perupa yang total memilih teks sebagai elemen estetik utama dalam karya lukisnya. Meski begitu, bukan berarti lukisan seperti itu sepi pembeli. Deddy bahkan mengaku bisa hidup dengan gaya lukisan seperti itu. “Saya punya pasar sendiri. Penggemarnya ternyata luar biasa. Sebagian besar justru anak-anak muda berumur 30-an. Pada awalnya saya sendiri sebenarnya terkaget-kaget. Saya sampai kewalahan memenuhi permintaan mereka. Persoalannya, bukan berapa banyak saya harus menjual,” paparnya.
Dalam menjaring pasar, Deddy mengaku punya cara sendiri. Kolektor-kolektor muda yang datang ke rumahnya selalu diajak berdiskusi. Kolektor itu bahkan boleh membawa pulang karyanya tanpa harus membayar lebih dulu. Jika suka, boleh dibeli. Jika tidak suka, boleh dikembalikan dan ditukar dengan lukisan lain. “Saya pikir metode seperti itu jarang dilakukan. Disinilah fungsi seniman untuk mendidik pasar. Mungkin agak ganjil kedengarannya, meminjamkan lukisan kepada orang yang kita tidak tahu, hingga akhirnya mereka benar-benar suka. Bahkan ada kolektor yang minta dipilihkan, mana karya yang bagus. Ini juga bagian dari tanggungjawab seniman untuk menjelaskan bagusnya dimana,” paparnya.
HERU CN