Saat Berselimut Salju Silvretta  

TEMPO Interaktif, Stuttgart: Luar biasa, kata-kata itu pas sekali diucapkan selama perjalanan menikmati indahnya suguhan rentang alam pegunungan Alpen di Austria—pegunungan terkenal dan terbesar di daratan Eropa. Eloknya hamparan hutan pinus, lembah, hingga gunung batu cadas gundul yang dipenuhi salju di puncaknya sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Saya pun sangat menikmatinya, walaupun perjalanan awal musim dingin ini oleh sebagian orang dirasa kurang nyaman ketimbang musim panas. Memang iklim Eropa jauh berbeda dengan iklim tropis seperti di Indonesia, dan ini cukup merepotkan bagi kita yang biasa tinggal di wilayah bersuhu hangat bahkan panas sepanjang tahun. Daratan Eropa pada musim dingin memiliki rentang suhu udara 0-8 derajat Celsius, belum lagi terpaan angin yang terkadang menambah dingin hingga menusuk ke tulang sumsum. Agar tidak sengsara oleh sergapan dingin selama dalam perjalanan, dibutuhkan cara tersendiri dalam berpakaian.

Bersama kakak dan kakak ipar saya yang mengemudikan kendaraan, serta tiga keponakan, kami terus melaju dari Kota Innsbruck, Austria, setelah berwisata di kota tersebut, awal musim dingin yang lalu. Dalam perjalanan pulang ke Stuttgart itu, kami akan mampir ke Danau Silvretta.

Sepanjang perjalanan tak pernah henti saya memainkan kamera untuk mengabadikan sajian pemandangan alam yang menawan itu. Kepada ipar saya, kadang saya harus berteriak “bitte langsam” agar memperlambat laju mobil supaya dapat menangkap obyek yang saya bidik dengan kamera.

Mobil terus melaju. Setelah melalui autobahn (jalan tol), mobil mengarah ke luar menjauh dan menuju ke arah pegunungan Alpen. Ketika berada di sepanjang jalan tol, terlihat sisi Alpen dengan variasi keindahan yang luar biasa, dengan jarak yang cukup jauh. Setelah memasuki daerah pegunungan, pemandangan terlihat sangat luar biasa. Kami melintasi rute jalan berkelok dengan tanjakan curam dan tajam, bahkan terkadang basah akibat salju.

Di sepanjang jalan itu pula saya dapat menikmati perkampungan-perkampungan kecil Austria. Suasana perkampungan didominasi oleh bangunan terbuat dari batu dan kayu serta bangunan berarsitektur minimalis nan sangat simpel, modern, dan sangat tepat untuk iklim Eropa. Seraya menikmati pemandangan itu, sesekali saya mengklik kamera untuk bahan informasi arsitektur.

Permainan tebak-tebakan dalam bahasa Inggris dan Jerman dengan keponakan menambah seru perjalanan. Sesekali perasaan tidak sabar untuk segera tiba menyelimuti kami. Sementara itu, tiga keponakan saya sudah tidak sabar bermain salju dengan perlengkapan dan bot yang mereka siapkan dari rumah.

Rentang 100 kilometer dari Innsbruck menuju Silvretta, kondisi jalan sangat baik plus pemandangan sangat luar biasa. “Hmmm, coba aja kalau kondisi semua jalan di Indonesia seperti ini, tentu setiap pemandangan indah yang kita miliki akan punya cerita tersendiri,” gumamku.

Pada satu titik perjalanan, kami melintasi satu daerah terkenal bernama Garmisch, yang merupakan spot point untuk berski di dataran tinggi Austria. Daerah ini layaknya perkampungan yang menjadi surga pada musim dingin. Garmisch tak ubahnya area yang disulap dan dipenuhi hotel, restoran, serta kereta gantung untuk pengunjung yang berwisata menikmati ski.

Pada musim dingin, khususnya Desember dan Januari, umumnya hotel-hotel itu mematok sewa kamar sangat mahal karena inilah puncak liburan dan waktu menikmati salju itu. Saat itu pengunjung dari hampir seluruh daratan Eropa akan melimpah di sana.

Saya pun menikmati Garmisch dengan cara saya: memotret suguhan bangunan hotel dan motel dengan arsitektur baru yang sangat variatif dan unik.

Kurang-lebih 20 menit melintasi Garmisch, kondisi jalan mulai berubah, meliuk-liuk dengan kecuraman makin bertambah. Tak lama berselang, kami tiba di sebuah pos penjagaan yang ternyata pos masuk menuju Danau Silvretta. Kami membayar tiket masuk beberapa euro.

Suasana terasa hening, kendaraan semakin jarang. Tekukan-tekukan dan ketinggian jalan di muka terlihat jelas bahwa itulah jalur yang akan kami lalui. Tak ada lagi vegetasi dan bangunan di sepanjang perjalanan. Bongkahan salju di beberapa sisi jalan dan bukit batu besar mengitari seluruh view yang kami lewati. Timbul perasaan takjub. Berada di kepungan pegunungan bebatuan dengan pucuk pucuk saljunya, rasanya kita begitu kecil.

Dalam hitungan menit setelah melalui jalan yang cukup menegangkan, pada satu akhir tanjakan, terhamparlah sebuah pemandangan luas dengan genangan air yang tenang. Inilah Danau Silvretta. Suguhan pemandangan alam yang tak pernah saya dapati sebelumnya. Tak sabar rasanya ingin segera menapaki dan menikmati pemandangan ini.

Suhu dingin di kisaran 4 derajat Celsius memaksa kami membungkus sekujur badan dengan jaket, mantel, dan sweater berlapis.

Tiga keponakan saya tampak antusias. Setelah melengkapi diri dengan jaket dan bot, tiga bocah cowok itu pun asyik bermain salju. Saya pun terlibat dalam permainan dengan saling menimpukkan bola-bola salju.

“Wow.” Lewat papan informasi tentang Danau Silvretta, saya tahu ternyata saya berdiri pada ketinggian 2.037 meter di atas permukaan laut.

Terletak di perbatasan antara Tirol dan Vorarlberg, danau ini terkenal sebagai waduk yang berada di cekungan dan terbentuk akibat glacier yang mencair dari beberapa puncak gunung di sekelilingnya. Cakupan danau-waduk ini tak cukup luas atau besar dibandingkan dengan sejumlah danau-waduk yang terdapat di Indonesia, seperti Jatiluhur. Waduk ini memiliki panjang 2,5 kilometer dan lebar 0,75 kilometer dengan tinggi bendungan 80 meter di sepanjang 430 meter lintasan.

Saya pun bergegas menikmati suasana seputar danau yang dikelilingi puncak salju, sementara angin terasa menghunjam. Tak berapa lama kemudian saya meninggalkan three boys yang lagi asyik bermain salju bersama ibunya. Lalu, berdua dengan kakak ipar, kami menyusuri pegunungan batu bersalju di lintasan jalan setapak. Sesekali beberapa orang melintas berlawanan arah dengan perlengkapan permainan ski yang lengkap.

Kami pun jadi tak sabar untuk mendekati glacier yang berada di belakang tekukan bukit batu. Selama 35 menit berjalan kaki, tampak pemandangan terbuka putih besar. Glacier Silvretta pun cukup terlihat. Itulah bonus view yang dapat dinikmati, karena untuk mencapainya lebih jauh lagi kami tidak siap dengan perlengkapan yang memadai untuk kondisi salju sesungguhnya.

Saat itu musim dingin belum mencapai puncaknya. Suhu 4 derajat Celsius adalah suhu yang sangat umum. Bayangkan bila pada kondisi puncak, pada pertengahan Desember hingga Januari, suhu dapat anjlok hingga mencapai minus 15 derajat Celsius. Dan kondisi danau bukanlah bentangan air yang hijau kebiruan yang tenang, melainkan hamparan salju yang membekukan permukaan air dengan ketinggian yang bertambah tebal mencapai hingga dua meter.

Tenang dan hening, itulah suasana yang tergambarkan tentang Silvretta. Oleh pemerintah Austria, danau ini dimanfaatkan sebagai sumber daya energi air untuk pembangkit listrik. Air yang dibendung mengalir melalui pipa-pipa yang panjangnya berkilo-kilometer di bawahnya untuk menggerakkan turbin listrik. 

Sebagai kawasan tujuan wisata yang nyaman, Silvretta dilengkapi dengan fasilitas jalan sangat baik, informasi penunjuk arah yang jelas, serta sarana pendukung seperti restoran dan hotel dengan arsitektur yang apik. Saya membayangkan, andai ini terjadi di Indonesia, tentu kita bisa menikmati surga tropis khatulistiwa yang sangat menawan.

Ketika berkeliling sambil memotret pemandangan dan beberapa bangunan unik Silvretta-Haus, saya menemukan shelter bus dengan jadwal tertentu. Ini menjadi menarik perhatian saya karena medan untuk mencapainya sangat jauh, selain kondisi jalan yang sangat curam dengan tikungan-tikungan tajam. Tapi saya yakin semuanya itu telah terpikirkan secara matang, termasuk standar keselamatan.

Untuk perjalanan kali ini, yang tertempel di kepala saya adalah sebuah kombinasi antara pariwisata, alam, infrastruktur, kota, arsitektur kebijakan, dan teknologi, yang semuanya terencana dengan sangat detail.

Waktu menunjukkan pukul 15.00, tak terasa hampir tiga jam berada di danau cekungan ini. Setelah cukup mengisi perut di satu restoran, kami bersiap-siap melanjutkan 350 kilometer jarak yang tersisa. Mobil menyusuri ruas jalan dengan tebing-tebing, kelokan-kelokan tajam dan berjurang di sisi kanan-kirinya. Saya teringat shelter-halte bus di Silvretta tadi. Saya membayangkan bus melintas di ruas jalan ini. Untuk kelas sedan, SUV, MPV saja, kendaraan harus dipacu dengan sangat perlahan dan ekstrahati hati, bagaimana dengan bus besar berkapasitas 30-40 penumpang?

Dan untuk ruas jalan pulang ini di kanan-kirinya terdapat sejenis tiang kayu dengan tinggi hampir tiga meter dengan bagian merah di posisi ketinggian dua meter. Ini berguna untuk penanda ketinggian salju yang menutupi, yang dapat mencapai dua meter.

Tentunya kami bersyukur perjalanan kali ini masih di awal musim dingin. Satu bulan setelah kunjungan ini, akses ke Silvretta biasanya tertutup salju yang tingginya bisa mencapai dua meter. Terbayang sudah.

MAULA MARBUN, PENIKMAT PERJALANAN, TINGGAL DI JAKARTA