Topik
Sekitar 4.000 Pulau Indonesia Terancam Lenyap
TEMPO Interaktif, Bandung: Pemanasan global yang menyebabkan naiknya air laut telah merendam pulau-pulau kecil di Indonesia. Menurut Deputi Menteri Negara Lingkungan Hidup Bidang Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat Henry Bastaman, sekitar 3.000-4.000 pulau terancam lenyap jika kondisi saat ini terus terjadi hingga 100 tahun ke depan. “Bisa jadi memperkecil luas wilayah Indonesia,” katanya di Universitas Padjadjaran, Bandung, Rabu (10/6).
Menurut Henry, angka 4.000 pulau yang terancam lenyap itu berdasarkan simulasi dari para peneliti ITB. Wilayah yang paling terancam adalah daerah yang banyak memiliki kepulauan kecil, misalnya, terletak di wilayah timur seperti Ambon, Bali Selatan, dan Nusa Tenggara Barat. “Itu yang ditakutkan bila muka air lautnya naik,” ujarnya.
Indikasi terancam hilangnya pulau-pulau itu terlihat dari naiknya air laut ketika datang pasang saat ini. Di Indramayu, katanya, air laut telah merangsek sejauh 3 meter dari tepi pantai. Di Jakarta pun, pasang bisa muncul tiba-tiba walau tidak ada hujan. Diperkirakan pada 2050, daerah Cengkareng bakal seperti Ancol dan pantainya terletak di kawasan bandar udara Soekarno-Hatta. “Kalau kondisi ini berlangsung terus, diperkirakan air laut bisa naik 1-2 meter karena pencairan es di kutub utara,” ujarnya.
Henry mengatakan, tidak ada jalan keluar untuk mengatasi rob karena pemanasan global ini. “Sulit dicegah, (karena) ini kejadian alam,” katanya. Sekarang yang perlu disiapkan adalah pola hidup masyarakat untuk beradaptasi dengan alam.
Warga pesisir, katanya, harus diingatkan tengah berada di daerah rawan, sementara pemerintah daerah harus memperbaiki tata ruang daerah pantai. “Rehabilitasi hutan bakau juga, karena kondisinya kini kritis,” kata Henry.
Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian Pengelolaan Lingkungan Wilayah dan Infrastruktur ITB Ibnu Syabri mengatakan, pemanasan global di Indonesia sudah muncul sejak 2004. Naiknya air laut, misalnya, telah merendam kawasan wisata Pondok Bali di daerah Subang. “Lima atau enam tahun lalu masih bisa didatangi dengan jalur darat, sekarang tidak bisa,” katanya di ITB.
Masyarakat di sekitarnya, sekarang hidup dengan genangan air. Ketinggian airnya bisa mencapai 30 senti meter. “Hampir tiap minggu itu terjadi,” katanya. Masalah itu telah menggangu nelayan karena naiknya air laut berarti mengubah arus dan pencarian ikan menjadi susah. Dia mengusulkan agar pemerintah bisa memindahkan kampong nelayan atau membuka usaha baru yang masih terkait dengan laut.
ANWAR SISWADI





