Dokumentasi
Topik
Siti Hajar Minta Nasibnya Diperjuangkan
TEMPO Interaktif, Garut: Siti Hajar, korban penganiayaan majikan di Malaysia, minta nasibnya diperjuangkan. Pesan ia sampaikan kepada keluarganya di Kampung Lio Wetan, Limbangan, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Ibu dua anak ini menjadi pembantu rumah tangga di Malaysia sejak 2006 lalu. Ia mendapati majikan bengis. Selain disiksa dengan cara disiram dengan air panas, Siti tak pernah mendapat gaji. Ia berhasil kabur pada tengah malam dan minta perlindungan ke Kedutaan Indonesia di Kuala Lumpur.
"Siti minta keluarga di kampung memperjuangkan nasibnya," kata Uti Sutisna, paman Siti yang sempat berbicara melalui telepon dengan korban. Menurut Uti, keponakannya itu sekarang dirawat di sebuah rumah sakit di Malaysia dan dalam perlindungan Kedutaan RI.
Kabar buruk itu sangat menggemparkan keluarga Siti Hajar. Janda beranak dua ini diberangkat menjadi tenaga kerja wanita di Malaysia melalui PT Mangga Dua Mahkota pada 28 April 2006 lalu. Siti tidak pernah bisa memberi kabar dan mengirimkan uang untuk dua anaknya. Toni, 14 tahun dan Jakki, 4 tahun, anak Siti terpaksa disantuni Isah, 36 tahun, yang tak lain adalah kakak korban.
Menurut Uti, kabar kondisi Siti yang mengenaskan itu pertama kali diterimanya dari polisi pada Senin malam sekitar pukul 22.30 WIB. Sejumlah anggota Kepolisian Sektor Limbangan mengecek kebenaran alamat Siti. Berselang beberapa menit, Kedutaan Besar Indonesia untuk Malaysia menghubungi melalui telpon seluler.
Dalam perbincangan, Kedutaan menyatakan bahwa Siti Hajar dirawat dirumah sakit karena mengalami luka berat. Awalnya keluarga tidak percaya atas kabar tersebut. Setelah melibat tayangan televisi, barulah percaya. “Mereka meminta kami jangan panik,” ujarnya
Esoknya keluarga berhasil berbicara dengan Siti. Pada percakapan singkat berlangsung pada Selasa pukul 10.00 WIB, Siti meminta keluarga untuk memperjuangkan masalah yang sedang dihadapi. Siti pun meyampaikan rasa rindu kepada dua anaknya dan ingin cepat pulang ke Garut . “Sep..., tolong diurus dan dilaporkan ke polisi masalah bibi (Siti Hajar)” ujar Syamsul Rizal, 37 tahun, menirukan ucapan Siti.
Duta Besar Indonesia Da’I Bachtiar juga menyampaikan belangsungkawa kepada keluarga Siti. Dia meminta keluarga Siti di garut tidak khawatir. “Beliau bilang akan mengurus segala sesuatunya,” kata Syamsul, yang biasa dipanggil Asep itu.
Penyiksaan secara kejam terhadap Siti ini mengingatkan pada kasus serupa yang menimpa Nirmala Bonat, TKW asal Flores, Nusa Tengara Timur. Ia disiksa dengan cara diseterika di sekujur tubuhnya. Proses hukum perjuangan Nirmala menjerat majikannya butuh waktu sekitar tiga tahun.
Bentuk penganiayaan yang diterima Siti sungguh biadab. Selain disiram dengan air panas, Siti juga sering dipukul dengan kayu di sekujur tubuhnya jika melakukan kesalahan dalam bekerja. Siti bekerja sebagai pembantu rumah tangga sejak 2 Juli 2006. Semula ia bekerja pada majikan bernama Lim Hu Su. Baru empat 4 hari Siti pindah ke majikan lain bernama Michel. Sejak bekerja pada majikan yang kedua inilah, Siti mengalami penganiayaan dan penyiksaan. Majikan Siti juga melanggar aturan, tidak membayar gaji Siti selama 34 bulan atau hampir 3 tahun.
SIGIT ZULMUNIR
Web via