indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Riset Bioteknologi Kelautan Masih Miskin


TEMPO Interaktif, BANDUNG:—Riset bioteknologi kelautan masih miskin. Padahal olahan kekayaan biota laut Indonesia berpeluang besar menjadi obat yang handal untuk mengatasi penyakit kanker. “Nilainya bisa mencapai US $ 40 milliar jika menjadi obat atau herbal,” kata Kepala Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Hari Eko Irianto. Potensi kelautan itu diungkapkannya di hari kedua International Conference and the Environment di Aula Timur ITB, Selasa (16/6).

Isi laut yang tengah diteliti sebagai obat, diantaranya, koral, rumput laut, dan tulang rawan ikan hiu. Tulang itu, katanya, tengah dikembangkan sebagai obat kanker. Begitu pun kekayaan koral yang tersebar di laut sekitar Mentawai, Nias, juga Karimun Jawa. “Untuk obat kanker payudara dan serviks,” katanya.

Sementara ekstrak rumput laut alginate, berfungsi untuk menekan kadar gula dalam darah. Selain itu, peneliti kini sedang mencari kemungkinan biota laut untuk bahan obat penyakit tropis seperti demam berdarah.

Sayangnya, kata Hari, para peneliti Indonesia masih kekurangan alat penelitian. Nuclear Magnetic Resonance (MNR) misalnya, di negeri ini hanya ada satu di kantor Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Alat itu, ujarnya, berfungsi untuk melihat sel dan fungsinya jika strukturnya diubah.

Kepala Konsorsium Bioteknologi Indonesia Bambang Prasetya juga mengeluhkan fasilitas serta dana pengembangan penelitian yang minim. Setiap tahun, peneliti di konsorsiumnya yang berasal dari 43 instansi pemerintah dan 88 perguruan tinggi se-Indonesia rata-rata menerima dana Rp 120 juta. “Minimal harusnya tiga kali lipat,” tandasnya.

Selain itu, yang menghambat kinerja peneliti adalah gaji yang berkisar Rp 2,5 juta-Rp 4 juta per bulan. Akibatnya, pengembangan hasil penelitian awal kerap mandek. “Pemerintah memang hanya menganggarkan untuk kebutuhan (penelitian) minimal,” ujar Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Cibinong itu. Agar riset berkembang, peneliti Indonesia harus menggandeng peneliti dari luar negeri.

ANWAR SISWADI

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X