PT Dasrat Pernah Diminta Menghentikan Aktivitas Menambang

TEMPO Interaktif, Sawahlunto: PT Dasrat, pemilik izin penambangan di Bukit Tual, Sawahlunto yang meledak dan menewaskan lebih 30 orang, pernah diminta menghentikan penambangan batubaranya pada 21 Desember lalu.

Kepala Dinas Pertambangan, Industri, Perdagangan dan Koperasi Sawahlunto Syafriwal aktifitas yang dilakukan penambang dari CV Perdana yang dikuasakan oleh PT Dasrat mebnambang di Bukit Bual tidak memenuhi standar dan telah diminta berhenti hingga standar keselamnatannya diperbaiki.

“Dari hasil penelitian kami, akhir tahun lalu ternyata gas metannya sudah melampaui ambang batas, gas metananya sampai dua persen dari volume udara dan jauh dari standar keselamatan kerja, karena itu kita minta aktivitas dihentikan hingga perbaikakan sistem fentilasi agar gas metana turun,” kata Syafriwal, Rabu (17/6).

 

Syafriwal mengatakan. Fentilasi pada pertambangan itu ada tetapi tidak memenuhi standar untuk jumlah lima lubang tambang sehingga udara yang dimasukkan kurang. Dan tidak cukup untuk 40 pekerja tambang di dalamnya.


“Ternyata blowernya tidak memenuhi kebutuhan itu, tidak bisa mencairkan gas metan di dalam, itulah yang kita perintahkan untuk menghentikan pekerjaannya, dan ternyata itu tidak dilakukan, dan akhirnya meledsak,” kata Syafriwal.

Ia mengatakan penambang tidak menggunakan helm dan masker serta tidak ada papan peringatan bahaya dalam lubang tambang, apa saja yang tidak boleh dibawa. “Mereka mungkin saja bisa bebas merokok di dalam, padahal metananya tinggi,” kata Syafriwal.

 

FEBRIANTI