Sinetron Masih Dianggap Tayangan Terburuk

TEMPO Interaktif, BANDUNG:—Acara talkshow Kick Andy tayangan Metro TV, dipilih penonton sebagai program televisi terbaik. Sebagai tayangan terburuk, mayoritas responden menunjuk sejumlah acara sinetron. Itulah hasil rating publik ke-4 tentang tayangan televisi ramah keluarga yang dipaparkan Yayasan Sains, Estetika, Teknologi (SET) di Universitas Padjadajaran, Bandung.

Menurut responden, kualitas program TV yang baik secara umum adalah menambah pengetahuan, meningkatkan empati sosial, juga menghibur. Selain Kick Andy, tiga program berita (TV One, SCTV, RCTI), serta serial Bocah Petualang, ikut dinilai sebagai yang terbaik. Sebaliknya, tayangan sinetron yang buruk karena, misalnya, kurang menghibur, mengandung adegan kekerasan dan pornografi, serta tidak ramah anak. Sinetron terburuk itu adalah Suami-suami Takut Istri, Muslimah, Curhat dengan Anjasmara, Inayah, Ronaldowati, dan Termehek-mehek.

Walau dinilai buruk, tapi responden mengaku sering menonton sinetron. Riset terbaru yang dilakukan bersama yayasan TIFA dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia itu menunjukkan, lima sinetron yang paling banyak ditonton. Antara lain, Citra Fitri Season 3 (SCTV), Termehek-mehek (Trans TV), dan Dewi (RCTI). Sementara sinetron yang dianggap berkualitas seperti Oshin (TVRI) dan Kepompong (SCTV), tergolong kurang digemari.

Dari riset itu, tayangan lain yang sepi peminat adalah acara yang terkait dunia pertanian, perkebunan, perikanan, lingkungan hidup, dan perempuan. Penonton ternyata lebih menyukai acara politik (69 persen), hiburan, dan kriminalitas.

Deputi Direktur Yayasan SET Agus Sudibyo mengatakan, riset lanjutan itu dilakukan pada 7-13 April lalu. Mereka mengambil 212 responden yang punya perhatian terhadap televisi dan dipilih dari 11 kota, seperti Medan, Batam, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Pontianak, dan Makasar, dengan metode kuota sampling. Dengan bentuk riset peer review assesment, riset kualitatif itu memakai disain panel yang dirancang secara periodik dan menyertakan responden dalam jumlah tetap dari waktu ke waktu survey dilakukan.

Latar belakang responden, kata Agus, sengaja banyak dipilih dari kalangan terpelajar, seperti sarjana, pasca sarjana, serta mahasiswa. ”Karena kami ingin menilai kualitas program acara TV, jadi strata pendidikan dan sosiologis distruktur,” ujarnya. Dengan cara itu, dia mengakui, tidak mewakili masyarakat Indonesia sepenuhnya.

Riset senilai Rp 180 juta itu, menurut Agus, untuk alat penilaian program TV berbasis kualitas dan memberi perangkat kepada publik untuk menilai acara TV secara kritis dan rasional. Sasaran lainnya adalah para pengiklan. Kalangan itu, kata Agus, didesak untuk tidak memasang iklan di acara-acara TV yang dinilai buruk. ”Kritik terhadap TV nggak pengaruh, ” katanya.

ANWAR SISWADI