Topik
Hourglass, Berani Walau Belum Beda
TEMPO Interaktif, Jakarta: Dream Theater, Porcupine Tree, Rush, dan sedikit Emerson Lake Palmer diramu menjadi satu dalam sebuah album progressive rock yang memikat. Inilah yang terbayang saat mendengarkan album Oblivious to the Obvious milik Hourglass. Band yang berdiri pada 1999 di Utah, Amerika Serikat, ini memiliki komposisi pemain: Brick Williams (gitar), Jerry Stengquist (keyboard), Michael Tuner (vokal), Eric Blood(bas), dan John Dunston (drum).
Hourglass boleh dibilang tak terlalu produktif dalam menghasilkan album. Sebelum album ini, mereka membuat The Journey Into (2002) serta Subconcius (2004), dan lima tahun kemudian Oblivious to the Obvious. Selama empat setengah tahun Hourglass melakukan proses pembuatan album ini, dari penulisan hingga ke dalam dapur rekaman. Sebanyak 10 lagu yang mereka garap berdurasi--yang bisa dikatakan--sangat panjang: 140 menit. Lagu ke-10 sendiri terbagi atas beberapa babak. Album ini pun dikemas dalam bentuk dua cakram padat.
Apa yang ditawarkan Hourglass dalam album ini seakan memberikan hal baru kepada penggemar progressive rock. Pengaturan tempo dan permainan instrumen musik terasa benar diperhatikan. Oblivious to the Obvious memberikan ruang lapang kepada Eric Blood, yang benar-benar leluasa memainkan petikan-petikan bas yang lebih jazzy dalam hampir setiap lagunya. Selain itu, permainan gitar dan keyboard yang beradu menjadi warna tersendiri. Sang vokalis, Michael Tuner, yang menggantikan vokal lawas Chad Neth, memberikan vokal yang lebih menyatu.
Hourglass seakan mencoba memberikan sentuhan lain pada setiap lagunya dengan memasukkan warna musik budaya Timur Tengah. Lagu Pawn 2 membawa kita ke irama padang pasir, gemericik suara air, kemudian diganti dengan suara keyboard, serta disusul suara gitar listrik dengan sayatan metal, tapi masih dalam irama Timur Tengah. Yang uniknya lagi, meski disambar dengan gitar ala Spanyol kemudian dipadu dengan gitar listrik, lagu itu masih berciri Timur Tengah. Di pertengahan lagu, Eric Blood memainkan perannya dengan banyak memberikan bas solo yang memikat.
Permainan cepat dihentikan, Faces memberi jeda istirahat untuk pendengar. Lagu yang membawa kita ke dalam perenungan ini hanya diiringi alunan instrumen keyboard dan suara tipis gitar akustik di belakangnya. Michael Tuner hadir lebih melankolis. Suara empasan ombak laut membawa alam bawah sadar kita ke arah jarak pandang yang jauh. Apabila Faces memberikan ruang bagi keyboard, pada Estrangerd gitar akustik dibiarkan mengalir mengiringi vokal.
38th floor bisa menjadi lagu terbaik dan terpanjang durasinya pada album ini. Lagu berdurasi 21 menit, itu dibuka dengan petikan bas. Bas yang dominan membawa warna lebih jazzy. Vokal yang terpadu dengan bas membawa lagu ini semakin renyah, minimal hingga pada menit ketujuh. Selanjutnya dominasi gitar dan keyboard dengan ketukan cepat masuk pada suasana yang berbeda. Dan berhenti sejenak pada menit ke-11, kemudian masuk suara perkusi secara perlahan, dan petikan gitar listrik masuk secara halus. Perpaduan bas dan piano pun menjadi akhir perjalanan alunan selama 21 menit ini.
Pada lagu Delirium, para penggemar progressive rock pasti dapat menyatakan bahwa ciri Dream Theater terasa sangat kental di sana. Di sini juga terasa sedikit warna piano ala Keith Emerson. Penutup album itu adalah lagu yang sesuai dengan judul album ini: Oblivious to the Obvious. Lagu ini terbagi menjadi lima bagian, dengan sentuhan warna musik yang berbeda-beda, antara lain No Chance, Realization, Remember Me, In My Hands, dan Redemption.
Belum ada yang baru dari apa yang disajikan Hourglass dengan album Oblivious to the Obvious. Tapi paling tidak, dengan keberaniannya bermain-main dengan detail instrumen, album ini layak dikoleksi oleh penggemar progressive rock.
SANTIRTA M