Menjelajahi Pasar Antik Pezenas  

TEMPO Interaktif, Pezenas: Pezenas, kota di Prancis selatan, memanjakan penggemar benda kuno nan unik. Di sepanjang jalan, berderet toko benda antik, yang pemiliknya tidak hanya orang Prancis, tapi juga Inggris, Belgia, dan Asia.  

Dengan kota tempat saya tinggal, Montpellier, cukup dekat, sehingga saya dan suami hampir tiap tahun mengunjungi Pezenas. Barang yang ditawarkan kadang membuat orang geleng-geleng kepala. Banyak barang yang sebenarnya milik kakek-nenek kita, yang sudah dibuang karena dianggap sudah tua dan tak berfungsi, di sini malah dijual mahal.  

Beberapa kali saya membeli barang antik asal Indonesia, yang sering membuat saya sedikit ngilu. Bayangkan, saya yang asli Indonesia harus membeli barang asal Tanah Air saya dan membayarnya dengan euro. Tapi saya pikir, daripada lari ke orang lain, lebih baik barang itu terpajang di rumah saya. 

Mei pada pekan pertama lalu, saya kembali mengunjungi Pezenas. Saat itu sedang digelar pasar antik, yang hanya diadakan dua kali dalam setahun, Mei dan Oktober. Untuk menuju ke kota ini, tidak ada kereta tapi, hanya dengan kendaraan bermotor, termasuk bus. Bila membawa kendaraan pribadi, kita harus pintar-pintar mencari tempat parkir karena jalan umum ditutup untuk pasar antik.  

Suasananya sungguh seru. Sejak pukul tiga dinihari, para penjual mulai menyiapkan tempat di sepanjang jalan raya kota. Sementara itu, para penggemar barang antik berdatangan dari berbagai penjuru kota, bahkan ada yang sengaja datang dari luar negeri. 

Pendatang baru, seperti pengalaman pertama saya menyusuri pasar antik ini, mungkin panik. Bahkan takut bila barang yang diincar lenyap dalam sekejap atau menyetujui begitu saja harga yang ditawarkan si penjual.

Sekarang, karena saya selalu datang setiap tahun, tentu saja sudah terbiasa dengan suasana itu, termasuk hafal dengan beberapa penjual. Jadi saya sudah tidak terlalu panik melihat begitu banyak barang yang digelar.  

Begitu pula dengan trik mencari harta tersembunyi dan harga yang sesuai dengan kantong, yang bisa memakan waktu berjam-jam. Biasanya saya mulai "berburu" dari sekitar pukul 10.00 hingga pukul 18.00. Tentu dengan diselingi makan siang dan istirahat sore untuk minum kopi. Salah satu tip, yang saya ketahui belakangan, kita bisa menawar harga sampai setengahnya. Jika barang yang kita incar itu masih saja bercokol di tempat semula pada sore hari, itulah saat terbaik menekan harga serendah mungkin. Sebab, banyak penjual yang malas membawa pulang kembali barang mereka, apalagi bila barang tersebut besar dan berat. 

Jenis barang yang dijajakan pun bermacam-macam. Mulai barang pecah belah, seperti perlengkapan makan, hingga taplak meja antik. Dekorasi rumah, misalnya tirai jendela zaman dulu, lampu, sampai karpet yang bahkan sudah sangat usang dan kadang bolong, juga ada. Anehnya, ada saja yang bersedia membayar dengan harga mahal.  

Boneka atau mainan "jadul" alias zaman dulu sering menjadi incaran para kolektor khusus. Anak saya sempat tertarik pada sebuah miniatur mobil Citroen tahun 1950-an. Tapi saya sampai tercengang ketika mendengar angka yang disebut penjual: 50 euro (sekitar Rp 700 ribu). Tentu saja langsung saya suruh anak saya melepaskan mobil itu dari tangannya.  

Lain lagi ceritanya ketika saya mendatangi penjual yang menggelar berbagai macam besi. Ketika saya dekati, ternyata besi-besi berkarat itu perkakas tempo dulu. Dengan penasaran, saya menanyakan harga pisau: "Excusez-moi Monsieur, combien vous vendez ce couteau?" 

"Ah, ce couteau... il est a 45 euros, Madame," jawab lelaki itu, yang menyebut angka 45 euro atau sekitar Rp 630 ribu. 

Wah, mahal benar, kata saya dalam hati. Padahal pisau yang saya pegang itu benar-benar sudah berkarat dan sudah tidak rata lagi.  

Melihat saya tak menjawab, apalagi memulai harga penawaran, mulailah bapak penjual itu menceritakan asal-usul pisau yang masih saya pegang. Dongeng dia memang menarik sekali. Tapi suami saya bilang, dalam bahasa Indonesia, bahwa dia tidak percaya dengan karangan si pedagang. Untung benar, ketika saya meneruskan pemantauan barang antik lainnya, ternyata model pisau yang sama bisa ditemukan di tempat lain. Selain lebih baik kualitasnya, harganya lebih masuk akal. Dalam hal ini, kita memang harus sangat berhati-hati agar tidak mudah tertipu. 

Tapi jangan salah, ada memang barang yang berkarat habis, tapi nilainya tinggi karena sudah sangat langka dan ada sejarah di baliknya. Bahkan kursi yang sudah jebol pun sering jadi rebutan orang. Memang sering terjadi mebel antik menjadi barang yang paling menarik di pasar ini, apalagi bila perabotan itu hasil karya perancang pada masanya, yang sulit ditemukan lagi. 

Tahun lalu saya mengajak orang tua saya yang sedang liburan di kota saya ke pasar antik terkenal ini. Kebetulan sekali mereka berkunjung pada bulan Mei. Ibu saya sampai tercengang melihat panjangnya pasar yang digelar, dan dia sangat menikmati menjelajahi barang pecah belah, khususnya yang terbuat dari kristal. Soal harga, menurut dia, sangat masuk akal bila melihat kualitasnya. Saya yang awam soal kristal percaya saja kepadanya, yang memang mengincar barang berkilau ini selama bertahun-tahun.  

Buku-buku bekas juga menjadi sasaran para pengunjung. Bahkan saya sering menemukan komik bacaan saya ketika masih di sekolah dasar. Selain menggelar buku bekas, mereka menjual kartu pos lama. Saya memang senang sekali mengumpulkan kartu pos zaman dulu. Selain gambarnya unik, tanggal dicetaknya sangat penting bagi saya. Tapi kartu pos yang saya beli selalu yang masih kosong. Sedangkan banyak orang justru sengaja membeli yang sudah diisi. Pada mulanya saya heran, tapi akhirnya saya baru mengerti, ternyata tanggal penulisan yang tertera dan isi suratnya yang masih dengan gaya tempo dulu itu mempunyai nilai tertentu bagi para pengoleksi. 

Pada kunjungan kami hari itu, seperti halnya setiap kali saya menjelajahi pasar antik tersebut, kami hanya membeli barang kecil. Kalau membeli perabotan rumah, hari itu juga harus dibawa pulang.  

Beberapa tahun belakangan ini, ada salah satu penjual yang selalu datang ke pasar antik Pezenas untuk menjual barang-barang dari Indonesia. Terus terang, saya sempat dibuat tercengang oleh klenengan sapi. Di Kalimantan, benda itu tidak ada nilainya. Tapi, di pasar antik, barang itu dipajang bagaikan barang unik yang bermakna tinggi. Karena si penjual tahu saya dari Indonesia, harga yang dilepasnya sangat masuk akal. 

Satu hal yang saya anggap baik dari pasar antik ini adalah kota tetap dibiarkan seperti biasanya. Karena itu, bagi pejalan kaki, akan terasa nyaman dan santai mengunjungi beberapa monumen atau bangunan bersejarah. Apalagi beberapa jalan di dalam kota itu tertutup untuk kendaraan bermotor. 

Dini Kusmana Massabuau, Penikmat Perjalanan   

 

Berkunjung pada Musim Semi 

Pezenas, terletak dekat kawasan pantai, merupakan kota sangat kecil tapi unik. Sebagai tempat tujuan para turis, di sepanjang jalan kecil di kota ini, banyak sekali toko dengan dekorasi menawan menawarkan berbagai kerajinan seni. Dan jangan kaget bila kita menjumpai beberapa toko yang menjual produk Indonesia, termasuk berbagai kerajinan dari Pulau Dewata.

 

Musim semi adalah waktu paling tepat untuk mengunjungi Pezenas. Jika berkunjung pada musim panas, biasanya kota ini padat oleh turis, yang rata-rata menginap di daerah sekitarnya, karena bersamaan dengan liburan sekolah selama dua bulan di Eropa.

 

Jika berkunjung pada 1 Juli, di kota peninggalan Romawi ini, kita akan menyaksikan pesta kelahiran kerajaan berkuda. Pada saat itu, kota dihiasi dekorasi zaman dulu dan penduduk menggunakan kostum tradisional. Pertunjukan gratis ada di setiap sudut kota.

 Sedikit tip, bila ingin mendatangi Pezenas, sebaiknya lihat terlebih dulu situs wisata kota ini di http://www.ot-pezenas-valdherault.com (versi Prancis) dan http://www.pezenasenlanguedoc.com (versi Inggris).  

Dini Kusmana Massabuau