Waria Yogyakarta Pilih Golput

TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Sekitar 350 wanita pria (waria) yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta sepakat tidak memilih alias golput dalam pemilihan presiden tanggal 8 Juli 2009. Alasan mereka, dari ketiga pasang calon presiden dan calon wakil presiden yang maju, tidak satu pun yang mengusung program membela dan mensejahterakan kaum waria.

“Milih tidak milih, siapapun presidennya juga sama saja, tidak ada yang memperjuangkan kami, lebih baik golput!” tandas Direktur Keluarga Besar Waria Yogyakarta (Kebaya) Vinolia Wakijo kepada Tempo, Rabu (1/7).

Vinolia yang akrab disapa Mami Vin itu, mengatakan kesepakatan tersebut terlontar usai para waria menonton debat calon presiden dan calon wakil presiden di televisi. Berdasarkan tema-tema debat yang diangkat, menurut para waria, tidak satu pun yang menyinggung kehidupan waria. Begitu pun program-program yang dilontarkan para calon presiden dan calon wakil presiden tidak satu pun membela kaum waria. 

“Padahal waria itu juga manusia, waria Indonesia juga warga negara Indonesia,” kata Mami Vin.

Sedangkan persoalan yang mereka hadapi dari waktu ke waktu adalah sama, yakni soal belum adanya pengakuan sebagai masyarakat yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Namun sikap mendiskreditkan waria tetap terlihat. Begitu pun sejak proses pemilihan legislatif 2009 berlangsung. 

Sebanyak 50 persen waria di Yogyakarta tidak bisa ikut pemilihan legislatif karena kesulitan mengurus kartu tanda penduduk (KTP). Birokrasi pengurusan pun berbelit-belit lantaran banyak waria yg tidak bisa menunjukkan kartu C1 alias kartu keluarga. Padahal, banyak waria yang merupakan pendatang di Yogyakarta. 

Mereka telah meninggalkan rumah sejak remaja. Ditambah lagi rata-rata waria mempunyai penghasilan kecil sehingga tidak mempunyai uang untuk mengurus KTP. 

“Kami ingin duduk bareng (dialog). Kalau ada yang bela waria, ya saya pilih,” imbuh Mami Vin. 

PITO AGUSTIN RUDIANA