Doc: StockXpert
Topik
Ancaman untuk Kulit Sensitif
TEMPO Interaktif, Jakarta -Bintik-bintik merah menyebar di leher dan bagian punggung atas Alya. Anak berusia 3 tahun itu pun sering kali meringis ketika dimandikan. Sang ibu menyebutkan, kulit anaknya sensitif sehingga ia harus hati-hati dalam memilih produk, termasuk pakaian. Bila salah, tubuh si anak bisa memerah. Dokter spesialis anak, dr Rini Sekartini, SpAK, menyebutkan, pada dasarnya kulit bayi dan anak-anak masih sensitif, sehingga rentan terhadap infeksi, iritasi, serta alergi.
"Kulit bayi secara struktural belum berkembang dan berfungsi secara optimal. Ikatan selnya masih longgar," kata dokter yang berpraktek di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo ini di Jakarta pekan lalu. Kulit luar atau lapisan epidermis pada bayi dan anak-anak sekitar 20-30 persen lebih tipis dibandingkan dengan kulit orang dewasa. Dalam kondisi ini, zat-zat yang menempel pada permukaan kulit mudah terserap. "Pertahanan pada permukaan kulit yang belum sempurna akan membuat iritasi kulit mudah terjadi," dia memaparkan.
Bukan cuma bagian permukaan luar, bagian permukaan dalam atau dermis kulit bayi dan anak-anak juga masih belum berfungsi secara sempurna, misalnya dalam hal melindungi tubuh dari stres mekanik serta perubahan suhu. Kandungan kadar lemak yang tinggi pada kulit bayi juga menjadi pemicu terjadinya iritasi pada kulit. Karena itu, pemilihan aneka produk, termasuk baju, harus selektif. Friksi ini terjadi antara pakaian dan kulit serta diaper (popok) dan kulit. Apalagi sistem imun juga belum sempurna," ucapnya.
Untuk itu, para orang tua dianjurkan lebih jeli dalam memilih baju untuk sang buah hati. Lagi pula pengatur suhu tubuh (termostat) pada bayi juga belum bekerja optimal. Hal ini disebabkan lapisan lemak yang belum terbentuk pada minggu awal kehidupannya. "Pilih pakaian bayi yang sesuai dan gunakan bahan yang lembut, seperti katun, yang gampang menyerap keringat," ia menegaskan.
Selama ini, menurut dia, orang tua masih kurang memperhatikan bahan baju yang dikenakan anak-anak. Mereka hanya melihat baju itu menyerap keringat. Padahal bahan yang menyerap keringat belum tentu bagus untuk kulit bayi. "Harus benar-benar dibedakan antara bahan kaus dan katun karena sangat pengaruh terhadap kulit bayi," katanya di sela-sela sertifikasi Oeko-Tex Standard bagi Velvet Junior.
Pada dasarnya, pakaian seharusnya membuat bayi nyaman, hangat, dan sehat. Sebaiknya pilih bahan yang lembut, ringan, dan berserat. Bahan yang digunakan juga harus bisa membuat kulit bernapas sehingga kelembapan tubuh bayi bisa terjaga. Indonesia Representative Office Manager Testex Titi Susanti menambahkan, satu produk tekstil banyak sekali mengandung bahan kimia berbahaya, yang berpotensi diserap kulit dan dihirup penggunanya. "Dampak terburuk bisa menyebabkan alergi dan gangguan pernapasan," katanya.
Untuk itu, produk baju untuk bayi dan anak-anak seharusnya melalui pengujian sebelum dipasarkan. Pengujian laboratorium itu terdiri atas kandungan bahan kimia pada benang, kancing, label, hingga tali-tali yang akan digunakan. "Juga zat warna yang digunakan. Terkait dengan kebiasaan bayi yang suka mengisap baju yang dikenakan," ujarnya.
Lantas, Rini menambahkan, dalam pemilihan baju anak, jenis pakaian disesuaikan dengan perkembangan usia anak. "Jangan hanya karena bentuknya yang lucu dan unik. Tapi harus nyaman dan steril," ujarnya. Dalam situs nncc.org disebutkan, untuk desain, ada beberapa syarat agar tercapai kenyamanan, selain lembut serta menyerap keringat, lengan baju longgar, tidak memiliki kerutan terlalu banyak apalagi hingga menggelembung kaku, bagian leher terbuka lebar, bila ada kerah bentuknya harus sederhana dan datar, serta tidak ada jahitan atau aksesori yang membuat kulit bayi mudah iritasi. Lantas bila masih menggunakan popok, pilihan bagian bawah yang memudahkan penggunaan atau pelepasan popok. Dengan model sederhana pun, si bayi tetap cantik atau ganteng.
RITA | S IKA SARI
Memelihara Kulit Si Kecil
1. Mandikan secara teratur dua kali sehari.
2. Bersihkan rambutnya.
3. Ganti popok atau baju ketika sudah basah atau menjelang tidur.
4.Saat mandi, perhatikan suhu air dan jenis sabun serta pilih sampo bayi yang lembut.
5.Segera keringkan badannya seusai mandi.
Gangguan Kulit pada Bayi
1. Kulit memerah. Bila muncul di area popok, kemungkinan iritasi kulit karena popok. Bisa jadi popok terlalu ketat, terlalu basah, terlalu lama dipakai, atau juga karena jenis detergen, popok, atau tisu tertentu. Solusinya, langsung ganti popok begitu basah, usap dengan lap hangat, kemudian biarkan area popok itu tanpa penutup beberapa lama.
2. Jerawat bayi. Lazimnya muncul sejak masih dalam rahim karena pengaruh hormon ibunya. Hormon tersebut mendongkrak produksi minyak. Biasanya menebar di hidung dan pipi, tapi hilang dalam beberapa minggu, jadi tidak perlu pakai krim atau lotion apa pun.
3. Eksem. Biasanya diderita oleh anak dengan riwayat keluarga asma, alergi, atau eksem. Sering kali ditemukan pada wajah dalam bentuk kemerahan, yang bila dibiarkan akan menebal dan bersisik. Penanganannya, segera identifikasi pemicu eksem, lalu hindari. Gunakan sabun dan detergen lembut dengan jumlah pelembap memadai.
4. Kerak pada kulit kepala. Muncul saat bayi berusia 1-2 bulan dan hilang dalam setahun. Biasa disebut Seborrheic dermatitis dan dipicu karena kelebihan minyak. Tanyakan dokter spesialis anak untuk penggunaan jenis sampo, minyak, dan krim khusus.
5. Bintik merah. Dipicu iritasi kulit pada daerah yang mengeluarkan keringat banyak seperti leher, area popok, ketiak, dan lipatan kulit. Ciptakan lingkungan yang dingin dan kenakan pakaian yang longgar. Ketika panas, segera lepaskan pakaiannya.
6. Bedak bubuk. Hindari bedak bubuk karena bayi bisa menghirupnya sehingga menimbulkan gangguan pada paru.
7. Bintik putih. Biasa disebut milia (kadang juga disebut jerawat bayi) dan biasanya ada di hidung serta wajah. Kondisi ini terkait dengan perubahan hormonal. Setelah beberapa hari atau minggu, bintik putih akan menghilang.
8. Infeksi jamur. Bentuknya mirip susu yang mengering dan kulit di sekelilingnya berwarna kemerahan. Konsultasikan kepada dokter. Biasanya ditangani dengan obat antijamur.
WEBMD