Topik
!50 Ribu Hektar Hutan akan Dijadikan Rumah Gajah dan Harimau
TEMPO Interaktif, Jambi - Departemen Kehutanan RI melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi, saat ini tengah berupaya untuk menjadikan kawasan Hutan Produksi (HP) eks lahan Hak Pengusaan Hutan PT IPA seluas 150 ribu hektar lebih, dikawasan Kabupaten Tebo, Jambi, sebagai kawasan habitat binatang Gajah dan Harimau Sumatera.
“Selama ini sudah banyak sekali terjadi konflik antara kedua jenis binatang langka dan dilindungi tersebut dengan manusia, akibat habitat mereka sudah terganggu. Atas dasar itu, maka kita akan berupaya memperjuangkan lahan ini untuk tetap terpelihara sesuai dengan aslinya, sehingga dapat menjadi habitat Gajah dan harimau Sumatera”, kaat Didy Wurjanto, Kepala BKSDA Jambi, kepada Tempo, Senin (6/7).
Lahan seluas itu merupakan dataran rendah yang sangat cocok sebagai habitat kedua jenis binatang ini. Namun kondisinya kini juga sedang diupayakan PT Rimba Hutani Mas, anak perusahaan PT Sinar Mas Group untuk dijadikan kawasan hutan tanaman Industri.
“Kita bukan tidak setuju dengan keinginan perusahaan, tapi bila dilihat kenyataan yang ada di PT Sinar Mas Group sudah mengusahakan kawasan hutan produksi hampir mencapai 600 ribu hektar, baik yang sudah dibuka maupun sedang diurus perizinannya. Kita hanya berharap pemerintah daerah menyisahkan kawasan ini sebagai rumah bagi Gajah dan Harimau Sumatera yang kini sudah sangat terancam”, ujarnya.
Dari luas HP 150 ribu hektare lebih ini, 20 – 30 persen kondisi tegakan hutan masih sangat produktif, yakni kayunya alamnya masih bisa diperkirakan mencapai 50 meter kubik per hektare, dinilai masih cukup ideal untuk dijadikan tempat berlindung binatang buas dan binatang langka lainnya.
Menurut Didy, sedikitnya disekitar kawasan tersebut masih terdapat 80 – 120 ekor gajah dan Harimau Sumatera yang menggantungkan hidup di dalam daerah itu.
Beberapa waktu lalu, diketahui sedikitnya sembilan dari sepuluh orang warga Jambi yang tewas akibat dimangsa harimau.Tidakhanya itu 128 kawasan perkebunan kelapasawit milik warga Kecamatan Seraiserumpun, Kabupaten Tebo, hancur akibat dirusak kawanan gajah.
Semua itu, menurut Didy, akibat kehidupan binatang tersebut terganggu dan tidak ada lagi tempat untuk bisa hidup. Kawasan HP yang selamaini sebagai rumah mereka, kini sudah berubah fungsi menjadi kawasan pemukiman transmigrasi, perkebunan dan kawasan hutan tanaman industri.
Tidak hanya itu, pentingnya mempertahankan kawasan hutan ini juga untuk jangka panjang, khususnya bagi penyediaan air bersih, menjaga kelestarian alam dari bencana lonsor,kekeringan dan banjir.
Depertemen Kehutanan bersama Pemerintah daerah setempat dan beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat yang peduli lingkungan sekarang sedang mengkaji masalah ini dan berupaya berjuang untuk tidak mengalih fungsikan hutan alamyang tersisa tersebut.
SYAIPUL BAKHORI