Warga Sebatik Minta Presiden Terpilih Lebih Perhatikan Perbatasan


TEMPO Interaktif, Samarinda - Warga Sebatik mengharapkan presiden terpilih periode 2009-2014 lebih memperhatikan pembangunan perbatasan. Pasalnya, dari semua pemenuhan kebutuhan pembangunan selama ini Sebatik selalu tertinggal.

Herman HB atau yang dikenal H. Andeng tokoh masyarakat Sebatik mengungkapkan tak mempermasalahkan ketiga capres terpilih nanti. Menurutnya, kawasan perbatasan kedepan jangan lagi hanya dijanjikan pembangunan tapi tak pernah terealisasi. "Presiden SBY pernah ke Sebatik dan menjanjikan pembangunan kawasan perbatasan seperti Sebatik, tapi sampai sekarang Sebatik tak berubah," kata Herman yang dihubungi di Samarinda, Rabu (8/7).

Menurutnya, saat penyambutan Presiden ke Sebatik, tahun 2005 warga bergotong-royong memperbaiki semua fasilitas yang ada. Harapan besar warga kepada Presiden kata Herman sangat menunggu kepastian.

Kecamatan Sebatik merupakan pulau yang memiliki batas darat dengan Malaysia. Panjang garis batas negara sepanjang 25 kilometer yang ditandai dengan 18 patok membentang dari timur hingga barat.

Sekitar 36 ribu jiwa hidup di Pulau Terluar Indonesia ini. Mayoritas warga Sebatik adalah warga Sulawesi Selatan. "Saya tak memilih siapa yang terbaik, tapi saya meminta presiden nanti lebih peduli," ujarnya.

Herman mengungkapkan perolehan suara di Pulau Sebatik, perolehan pasangan Jusuf Kalla dan Wiranto unggul. "Saya tak tahu karena apa JK menang, karena warga yang memilih langsung," ujarnya.

Jika Presiden RI periode 2009-2014 kembali dijabat SBY, Herman meragukan percepatan pembangunannya. Meski demikian ia tetap berharap adanya persepsi yang sama dimasing-masing kandidat tentang pentingnya pembangunan perbatasan. "Kami sangat mendambakan Sebatik bisa maju, mudah-mudahan presiden terpilih nanti bisa menjawab," ungkapnya.


FIRMAN HIDAYAT 

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan