Presiden Belum Respons Keinginan Prabowo

ledakan bomTEMPO Interaktif, Jakarta - Juru bicara kepresidenan Andi Mallarangeng mengaku belum tahu Prabowo Subianto ingin bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. "Saya belum mendengar," ujar Andi kemarin.

Keinginan Prabowo menghadap Presiden diutarakan guna menjelaskan sikapnya atas bom di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton dua hari lalu. Calon wakil presiden yang berpasangan dengan calon presiden Megawati Soekarnoputri ini hendak mengklarifikasi pernyataan Yudhoyono.

Dalam konferensi pers beberapa jam setelah bom meledak, Presiden antara lain mengatakan "barangkali ada (pelaku) yang di waktu lalu membunuh dan menghilangkan orang dan kini masih lolos". Presiden tak menyebut nama atau kelompok tertentu. Tapi, saat menggelar jumpa pers setelah pernyataan Yudhoyono, Prabowo membantah berada di balik bom yang menewaskan sembilan orang dan melukai setidaknya 55 itu.

Dalam pernyataannya, Prabowo menegaskan tak akan menempuh langkah biadab berkaitan dengan hasil pemilihan presiden. Kekecewaannya pada pemilu tidak lantas dilampiaskannya dengan terlibat aksi kekerasan. "Saya kira itu suatu lompatan yang sangat jauh. Saya siap menghadap Presiden untuk meyakinkan, saya mendukung pemerintah dalam menghadapi terorisme," ujar Prabowo.

Andi menampik bahwa pernyataan Presiden ditujukan kepada seseorang. Menurut dia, Presiden berbicara berdasarkan data intelijen. Semua akan diungkapkan ke publik tanpa menyebut ada kaitannya dengan pemilu atau tidak. "Kalau tidak ada kaitannya, ya, sudah," kata Andi.

Presiden Yudhoyono kemarin mengunjungi lokasi ledakan sekitar 15 menit. Presiden tampak serius melihat kerusakan hotel. "Presiden prihatin dan marah terhadap orang yang tega melakukan peledakan ini," kata Andi.

Di tempat terpisah, Staf Khusus Presiden Bidang Hukum Denny Indrayana menjelaskan,pernyataan Yudhoyono terkait dengan bom merupakan jawaban atas pertanyaan masyarakat yang dikirim melalui SMS. Sebelum konferensi pers, Presiden mendapat SMS yang menanyakan apakah peledakan bom terkait dengan pemilihan presiden.

Saat itulah Presiden menjawab dengan informasi dari intelijen. "Kalau Presiden menyampaikan berbagai kemungkinan, itu belum sampai pada tingkat kepastian pelaku dan motif, namun hanya informasi awal yang diberikan kepada publik," kata Denny.

Mantan Gubernur Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian Farouk Muhammad menduga aksi bom itu besar kemungkinan bermotif ideologi, dan pelakunya punya jaringan internasional. "Lokasi yang dipilih memiliki pengamanan sangat ketat, terkenal di dunia, dan identitas negara maju, terutama Amerika, ada di situ," ujarnya. "Jadi kecil kemungkinannya terkait pemilihan presiden."

GUNANTO ES | CORNILA DESYANA