Rumah Produksi Sulit Dapatkan Klien

TEMPO Interaktif, Jakarta - Tingginya tingkat pembajakan di Indonesia membuat rumah produksi lokal kesulitan mendapatkan klien. Bahkan, saking sepinya pasar animasi di dalam negeri, membuat perusahaan animasi lokal menggandeng mitranya dari Singapura untuk mendapatkan klien.

General Manager Kinema Systrans Multimedia (Kinema), Dewi Pintokoratri, mengatakan pihaknya harus menggandeng perusahaan animasi asal Singapura, Infinite Frameworks, untuk mendapatkan klien.

"Seluruh interaksi klien dilakukan di Singapura karena Indonesia tidak memberikan jaminan terhadap hak kekayaan intelektual," ujar Dewi dalam jumpa pers di Hotel Hyatt, Jakarta, Senin (27/7).

Perusahaan Singapura, lanjutnya, memiliki persepsi yang lebih baik karena perusahaan animasi di Negeri Singa memberikan jaminan anti-pembajakan. Selain itu kondisi keamanan Indonesia juga menjadi pertimbangan tersendiri.

Managing Director Kinema, Mike Wiluan, menjelaskan klien asing takut datang ke Indonesia akibat ancaman aksi terorisme. "Klien kami kesulitan langsung ke Indonesia karena keamanan. Asuransi tidak mau meng- cover," tambahnya.

Sekurangnya dibutuhkan empat tahun bagi Kinema untuk mendapatkan kepercayaan dari klien. "Terutama soal hak kekayaan intelektual, mereka takut begitu memberi projek karya mereka dibajak," kata Dewi.

Klien mereka yang sebagian besar merupakan pihak asing asal Kanada, Amerika Serikat, dan negara-negara di Eropa, baru memberikan pekerjaan setelah mengetahui kualitas produk animasi lokal.

Indonesia dinilai memiliki potensi yang lebih besar ketimbang Singapura karena banyaknya talenta dan rendahnya biaya produksi. "Indonesia mampu menciptakan karya kualitas internasional dengan harga lokal," ucap Mike.

Pada 2008, Kinema mampu meraih pemasukan US$ 10 juta atau sekitar Rp 100 miliar dengan pengerjaan 20 hingga 30 proyek setahun. Dengan tenaga berupa 118 talenta lokal, Mike menargetkan pemasukan meningkat 20 persen pada 2009 atau US$ 12 juta (sekitar Rp 120 miliar).

Angka ini masih jauh lebih kecil dibandingkan ekspor animasi di negara pesaing, India, yang berhasil meraih pemasukan hingga US$ 1 miliar atau sekitar Rp 10 triliun. "Di Indonesia angka ekspor masih di bawah US$ 50 juta, rendah sekali," kata Mike.

Infinite Frameworks merupakan perusahaan animasi komputer grafis dan efek visual terbesar di Asia Tenggara yang bermarkas di Singapura. Perusahaan yang berdiri sejak 1997 itu terdaftar sebagai perusahaan Singapura namun saham mayoritasnya dimiliki oleh Mike Wiluan, warga negara Indonesia yang juga pemilik Kinema.

Pada 2005 perusahaan tersebut mendirikan studio animasi senilai US$ 5 juta atau sekitar Rp 50 miliar di Batam, Kepulaun Riau. Batam, kata Mike, menjadi tempat yang sempurna untuk mendapatkan proyek internasional karena letaknya dekat dengan Singapura.

VENNIE MELYANI