Repro
Topik
Album Mini, Idealisme yang Agak Berlepotan
TEMPO Interaktif, Jakarta - Memutar lima lagu berbahasa Inggris dari album mini milik band The You Know Who bertajuk The You Know Who bisa membuat kita sekilas menyangka bahwa album ini produk impor. Sampulnya minimalis, seperti band rock indie lainnya. Cuma ada warna hitam dan merah menyala yang mengisi gambar sepasang kaki di antara dua sound di atas panggung besar.
Setelah lagu-lagu itu masuk kuping, seperti mendengar karya-karya The Killers. Yap, benar sekali, ciri rock agak klasik ala Inggris menyeruak ruangan kala nomor andalan berjudul Lullaby diputar.
The You Know Who memang belum setenar The Killers. Idealisme bermusik yang mereka yakini terus dijunjung tinggi, meski kerap demo albumnya ditolak dari satu pintu label mayor ke pintu lainnya.
"Karena kami tak ingin mengubah (warna) musik, makanya ditolak," ujar Okto, sang vokalis. Sebuah cerita yang kembali terus terulang dan merupakan hal biasa bagi para pelaku musik indie. Syahdan, jalur indie (Astrobon Records), yang meski tak sekuat label mayor, menjadi pilihan band yang dibentuk pada 22 Juli 2005 ini.
Awas, jangan tertipu dengan penampilan Okto (vokal), Angga (bass), Putri (drum), Stella (keyboard dan synthesizer), dan Jaka (gitar) yang masih muda. Suara Okto yang berat mengingatkan kita kepada vokal Ozzy Osbourne yang mantap.
Kesan gondrong dan bertato pasti langsung muncul kala mendengar Okto "marah" dalam nomor Just Kill Me. Nyatanya, rambut cepak dengan dandanan "mommy boy", kaus gaul, jaket, dan jins, yang jadi ciri khas Okto bisa menipu.
Walau suaranya tergolong macho, tak bisa ditutupi bahwa vokal Okto masih kurang memiliki aura. Selain kurang greget, ditambah dengan pelafalan bahasa asing yang masih agak berlepotan. Beruntung, pelafalannya masih bisa dimaknai dengan jelas.
Rock yang mereka usung secara garis besar sejalur dengan band indie The Adams. Bedanya, cita rasa The Adams jelas lebih adem dengan musik dan lirik yang tak terlalu nyelekit di hati. Jauh dari melodi ringan, The You Know Who lebih suram, gothic, dan gelap.
Mungkin memang tak ingin dibilang "jadul", nomor lainnya dalam album, yakni Prisoner, Masquerade, dan Candle of Life, kental dengan polesan sound modern. Ada ciri gitar kopong Jaka, yang mengingatkan kembali kepada kekhasan Pearl Jam. Di lagu ketiga, Just Kill Me, Stella hendak bicara lewat dentingan keyboard bernada tinggi dan sedikit "permainan" dari synthesizer.
Walau baru kali ini mantap menembus pasar, The You Know Who bukan band asing di sejumlah panggung festival musik dan gelaran kafe di Jakarta. Finalis 30 besar La Light Indie Fest 2008 ini pernah singgah di album kompilasi Support Our Community produksi Astrobon Records.
AGUSLIA HIDASYAH
Web via