indonesia
INDONESIA
english
ENGLISH
rss
twitter
facebook
youtube
youtube
youtube

Tak Ada Penggerebekan Teroris di Poso


TEMPO Interaktif, Poso - Kepala Kesatuan Bangsa Poso, Provinsi Sulawesi Tengah, Arnold Bouw menyatakan, tak ada penggerebekan tersangka teroris di wilayah Kabupaten Poso. Bila ada penangkapan atau pun penggerebekan, seluruh elemen masyarakat, baik tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda telah sepakat untuk dilakukan secara terbuka.

“Kondisi masyarakat Poso saat ini berbeda dengan situasi sewaktu konflik, dimana saat ini masyarakat lebih terbuka memberikan informasi kepada aparat keamanan. Jadi setiap ada operasi apapun kita telah sepakat selalu melibatkan tokoh agama, masyarakat dan tokoh pemuda,” kata Arnold, Jumat ini (7/80

Pernyataan senada juga disampaikan Wakil Kepala Polres Poso, Kompol Ismet Eryadi. Menurut dia, tidak ada penangkapan teroris termasuk sejumlah orang yang selama ini masuk dalam Daftar Pencarian Orang di Poso. “Bila ada penangkapan teroris di Poso, seluruh elemen di Poso baik tokoh agama, masyarakat, pemuda telah sepakat, dilakukan dengan cara terbuka, tidak tertutup seperti dahulu yang justru bisa menimbulkan keresahan di tengah-tengah masyarakat Poso,” kata Wakapolres.

Kata Wakapolres, yang dilakukan polisi di Poso selama ini adalah mengintensifkan razia di perbatasan keluar masuk wilayah Poso. “Namun, kita juga tetap terus mengendus lima orang DPO Poso yang belum tertangkap. Dimana dua orang DPO asal Poso yakni Taufik Bulaga alias Upik Lawanga dan Nanto Bojel disebut-sebut sebagai murid Dr. Azhari dan terlibat peledakan bom JW Marriot dan Ritz Carlton,” kata dia

Sebelumnya, informasi yang beredar menyebutkan, dua daftar pencari orang Poso yang selama ini buron yakni Nanto Bojel dan Taufik Bulaga digerebek polisi di tempat persembunyiannya di Poso. Dalam penggerebekan ini, polisi menemukan dokumen keterlibatan keduanya dengan peledakkan bom di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton pada 17 Juli 2009 lalu.

DARLIS

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X