Pengasuh Pesantren Qolbun Salim Prambanan Bantah Didatangi Densus 88


TEMPO Interaktif, Klaten - Pengasuh Pondok Pesantren "Qolbun Salim" Muhammad Abdullah Sonhaji membantah jika pondok pesantrennya didatangi aparat Detasemen Khusus (Densus) 88 pada Senin (10/8) dini hari.

Sebelumnya dikabarkan, bahwa Densus 88 menggeledah Ponpes Qolbun Salim yang beralamat di Dusun Pereng, RT 10/RW 5, Desa Pereng, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah untuk mencari Surawan dan Agus Kuncoro yang menjadi buron. Kedua nama tersebut muncul dari penyidikan hasil pengembangan pascapenembakan Air Setiawan dan Eko Joko Sarjono, warga Brengosan, Surakarta.

"Di sini cuma ada 15 santri, saya hafal semua. Tidak ada santri yang bernama itu di sini," kata Abdullah Sonhaji yang biasa disapa dengan sebutan Abah Soni saat ditemui di pesantrenya, Senin (10/8).

Abah Soni menceritakan, bahwa Minggu malam, pondoknya mengadakan mujahadah di kawasan Jalan Yogyakarta-Solo sejak setelah Maghrib hingga pukul 01.00 malam. Mujahadah dilakukan karena pondoknya menjadi tim hikmat atau semacam panitia acara tersebut. Selama dilangsungkan mujahadah hingga pagi harinya, dia menandaskan bahwa tidak ada aparat Densus yang mendatangi pesantren itu.

"Kalau setahun lalu memang ada Densus ke sini. Saya lupa mereka mencari siapa, tapi memang dilakukan pascapengeboman juga," kata Abah Soni.

Selain mengasuh pesantren, Abah Soni juga mengasuh panti asuhan yatim piatu dengan nama yang sama. Di dalam pondoknya yang berada di kaki bukit Boko itu, Abah Soni juga membina dan mengasuh santri yatim piatu untuk membuat usaha industri kecil obat tradisional yang bergerak di bidang pembuatan jamu dalam bentuk kapsul yang tidak mengandung bahan kimia. Produknya berupa jamu herbal bermerek Assyifa serta mengadakan pelatihan penyembuhan dengan metode ruqyah, bekam, gurah, tenaga dalam, reiki, prana serta terapi listrik. Mayoritas santrinya berasal dari jalur pantai utara Jawa.

PITO AGUSTIN RUDIANA

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Wajib Baca!
X