Mengenali Penyakit Akibat Cuaca Ekstrim
Topik
Mengenali Penyakit Akibat Cuaca Ekstrim
TEMPO Interaktif, Jakarta -Kondisi cuaca ekstrim yang terjadi akhir-akhir ini rupanya bisa mengancam kesehatan. Dr Saptadji, dari Klinik Puri Mutiara, Cipete Jakarta Selatan, menyebutkan cuaca ekstrim ini terutama berbahaya bagi mereka yang daya tahan tubuhnya lemah. “Musim panas yang kadang turun hujan ini memang rawan,” ujarnya. Penyakit yang mengancam dikelompokan menjadi dua bagian. “Penyakit infeksius dan non infeksius,” kata sosok yang juga dikenal sebagai dokter keluarga ini. Non infeksius antara lain alergi (karena udara, debu, kutu, bulu binatang) sangat berperan pada kondisi yang ekstrim. Pada saat udara sangat panas disertai kondisi mendadak hujan, biasanya kemampuan tubuh untuk beradaptasi menjadi terganggu, tubuh dengan sendirinya bereaksi dan beradaptasi dengan perubahan cuaca tersebut.
Masalahnya, proses adaptasi yang begitu cepat bisa membuat daya tahan tubuh anjlok, sehingga tubuh tidak mampu melakukan reaksi pertahanan secepat perubahan cuaca. Akibatnya, jika yang bersangkutan peka terhadap sesuatu, maka kondisi alergi bisa terjadi pada cuaca ekstrim tersebut.
Sementara penyakit infeksius muncul karena terjadinya mutasi dari berbagai penyebab penyakit menular yang penyebabnya sangat bervariasi. Yaitu karena bakteri maupun virus dan jamur. Belum sempat tubuh mengenali penyebab penyakit infeksinya, sudah diserang lagi oleh penyebab lain. Sehingga dalam waktu bersamaan tubuh menerima informasi berbeda-beda dan ini salah satu penyebab lemahnya pertahanan tubuh, sehingga timbullah penyakit infeksius itu.
Dari sekian banyak penyakit yang mengancam, ada beberapa jenis penyakit yang paling sering dialami para profesional muda yang bekerja di perkotaan. Seperti Asma, jantung, stroke, penyakit yang menyangkut otot dan persendian (BackPain, NeckPain, FrozenShoulder), gangguan tidur, TBC, Typhus, hepatitis, flu influenza, dan building sick syndrome.
Penyebab utamanya menurut Saptadji antara lain mobilitas tinggi yang memang dituntut dari dunia kerja para yuppies tersebut. Belum lagi karena makan tidak teratur dengan kualitas apa adanya, istirahat kurang, olahraga tidak pernah atau sekalisekali.
Kondisi tersebut masih ditambah dengan suasana lingkungan kerja yang kurang ventilasi, para perokok yang tidak peduli pada hak orang lain yang memerlukan udara bersih asap rokok, perawatan penyejuk udara yang tidak diperhatikan, dikejar tengat waktu, tidak memperhitungkan waktu atau sering terlambat. “Sehingga pada saat terjadi perubahan cuaca yang tiba-tiba, badan pun akan bereaksi “bingung“, dan akibatnya tidak mampu beradaptasi,” ucapnya menambahkan. Ujung-ujungnya tubuh kemudian menyerah, lalu sakit dan mungkin bisa fatal .
Yang harus diingat, menurut Saptadji, kondisi ini tidak hanya terjadi pada masa pancaroba saja. “Bisa terjadi sepanjang waktu, baik pada musim hujan maupun musim panas,” katanya serius. SUSANDIJANI
Tip Minum Air
Isu Pemanasan Global sangat mempengaruhi sistem alarm tubuh. Udara panas ekstrim yang terjadi saat ini, minimal akan menyebabkan tubuh dehidrasi. Sementara kekurangan cairan mengakibatkan ketidak seimbangan cairan di tubuh. Untuk itu, Dr Saptadji dari Klinik Puri Mutiara, Cipete Jakarta Selatan, menganjurkan agar kita meminum air putih, minimal 1.500-2.000 cc per hari. Keseimbangan volume cairan tubuh akan menjaga keseimbangan sistem yang mengatur ritme kegiatan tubuh.
Saran lainnya adalah selalu mempersiapkan segala keperluan yang akan dibawa keesokan harinya. “Ini penting agar tubuh bisa beradaptasi dan tidak panik memulai kegiatan hari itu,” tutur Saptadji. Selain itu, manfaatkan sinar matahari pagi sebelum pukul 8. Oksigen pagi hari sangat bermanfaat untuk mempertahankan sel sehat. Sinar matahari pagi juga berguna untuk merangsang sistem immunitas.
Terakhir, sering menggunakan anggota gerak tubuh, paling tidak streching setiap 30 menit selama 2-3 menit. Tubuh yang tetap bergerak bakal menjamin kelancaran impuls listrik neuron kita supaya aktif, sehingga tubuh tetap fit.