Berita Terkait



Perusahaan Negara Kuasai Sepertiga Kapitalisasi Bursa

TEMPO Interaktif, Jakarta - Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengklaim menguasai 31,42 persen dari total kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia hingga 17 Juli 2009. Nilai itu setara dengan Rp 521,68 triliun dari 14 perusahaan pelat merah dan satu perusahaan dengan kepemilikan negara minoritas.

"Kapitalisasi naik lebih dari 100 persen dalam lima tahun terakhir," ujar Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil dalam rapat kerja dengan Komisi BUMN, Rabu (26/8) malam. Pada 2004 kapitalisasi BUMN hanya Rp 250 triliun.

Menurut catatan BUMN, PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk menguasai kapitalisasi BUMN di BEI sebesar 161,28 triliun atau 9,71 persen. Disusul PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (Rp 83,03 triliun atau 5 persen), dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (Rp 79,66 triliun atau 4,8 persen).

Ketiganya memberi total kapitalisasi Rp 323,97 persen atau 19,51 persen. Sekitar 12 BUMN lainnya menguasai kapitalisasi dengan nilai Rp 197,71 triliun atau 11,91 persen. Kapitalisasi BUMN tertinggi terjadi pada 23 Mei 2008 sebesar Rp 546,16 triliun dan turun menjadi Rp 470,44 triliun pada 5 September 2008.

Sofyan menjelaskan kinerja BUMN terbuka dan terbuka mengalami perbaikan dengan kenaikan total laba bersih sebesar 110,75 persen dalam lima tahun terakhir. Laba tahun lalu tercapai Rp 77,86 triliun.

Kinerja BUMN ditopang oleh peningkatan sektor pertambangan dengan kenaikan laba bersih Rp 23,77 triliun atau 260 persen dan sektor telekomunikasi sebesar Rp 4 triliun atau 61 persen. Sementara kenaikan laba bersih sektor perkebunan dan semen sebesar Rp 2,41 triliun atau 384 persen dan Rp 2,13 triliun atau 407 persen.

Dia juga memcatat, jumlah BUMN rugi selama empat tahun buku, 2005-2008, berkurang menjadi 23 dari 35 BUMN. Kontribusi kerugian terbesar sejak 2004 hingga 2008 dipegang oleh PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) yakni Rp 2,02 triliun pada 2004 dan Rp 12,3 triliun pada 2008. "Penyebab kerugian BUMN antara lain kebijakan subsidi, kesulitan bahan baku, dan likuiditas," kata Sofyan.

RIEKA RAHADIANA