Berita Terkait
Penembakan Bus Karyawan Freeport Terjadi lagi
TEMPO Interaktif, Timika - Sejumlah karyawan PT Freeport Indonesia, Jumat (28/8) malam, menyatakan semakin resah karena penembakan dengan target bus mereka masih saja terjadi.
Pada Jumat sore, 12 bus karyawan yang berjalan beringan, diberondong tembakan membabi buta mulai dari mile 46 hingga mile 41 jalan Timika-Tembagapura. "Jadi Pak, semua karyawan yang turun (ke Timnika) mulai resah. Dong (mereka/karyawan) bilang, tunggu saja siapa yang bagian lagi. Siapa yang bagian tumbal lagi," kata seorang karyawan yang busnya ikut ditembaki.
Menurut dia, sudah saatnya organisasi-organisasi pekerja melakukan sesuatu untuk menjamin keselamatan karyawan. "Organisasi pekerja harus melindungi karyawan. Kita tahu aman itu kalau kita naik turun itu tidak ada pengawalan. Jadi selama masih ada pengawalan itu tidak aman," kata karyawan yang enggan disebut namanya itu.
Tuntutan soal jaminan keselamatan tidak hanya didesakkan pada organisasi pekerja. Sejumlah karyawan juga minta pada pemerintah untuk serius menangani penembakan di Timika. "Kita karyawan ini warga negara yang produktif, dalam arti kita ini membayar pajak. Permasalahannya kami lihat bahwa negara ini sudah masa bodoh, kita saat ini dalam situasi resah, kuatir, kemudian negara seakan-akan tidak berbuat maksimal untuk melindungi kami." kata karyawan lainnya.
"Jangan karyawan yang dihantam, kalau mau bakar-bakar yang lain, jangan kami. Kami pikir ini tidak berkepanjangan. Tapi ini situasi sudah meresahkan, itu semua uang nomor dua. Sekarang yang tong (kita) kejar ini sudah, supaya betul-betul hak keselamatan karyawan dijamin," katanya.
Penyerangan terhadap iring-iringan bus ini dilakukan dari hutan berjarak sekitar 200 meter. "Dong tembak mulai dari mile 46, dari arah kiri. Itu tempat rata. Saya waktu itu duduk di nomor dua dari kiri," kata seorang karyawan.
Menurut dia, anggota Brigade Mobil yang ikut dalam rombongan kemudian memutuskan berhenti di mile 41 untuk melakukan perlawanan. Sebanyak 60 karywan yang panik dalam setiap busnya, akhirnya hanya bisa tiarap di lantai bus.
Iring-iringan karyawan ini akhirnya dapat meloloskan diri setelah panser Barakuda milik Brimob datang ke lokasi dan menembaki kelompok kriminal bersenjata yang menyerang dari dalam hutan.
Akibat penyerangan mulai dari pukul 17.30 hingga pukul 18.00 waktu Papua, bus karyawan nomor 02-132 dan 02-140 tertembus peluru penyerang. Tetapi tidak ada laporan soal karyawan yang terluka.
Menanggapi keresahan karyawan PT Freeport Indonesia, Ketuas Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia DPC Mimika, Viktor Kabey, Jumat malam, menyatakan prihatin dengan situasi ini. "Diharapakan pada SPSI terkait, sektor KEP (Kimia Energi dan Pertambangan) dan PUK-PUK (Pengurus Unit Kerja), agar segera melakukan konsolidasi yang baik agar bisa menjamin keamanan karyawan," kata Vikto.
Ketua Serikat Pekerja Kimia, Energi dan Pertambangan Pusat, R Abdulah, ketika dihubungi melalui telepon pada Jumat malam, meminta serikat pekerja di Mimika segera membuat surat ke Kapolres Mimika, Kapolda Papua, Dandim 1710 Mimika dan Pangdam Cenderawasih untuk mengefektifkan pengamanan bagi karyawan. "Nanti saya minta kepada aparat, pemerintah, TNI-Polri, mau pun Angkatan Darat, agar memberikan pengamanan secara ekstra dalam rangka memberikan jaminan keselamatan bagi para pekerja dan demi kelangsungan investasi di Timika," kata Abdulah.
Tjahjono Ep





