Berita Terkait


BUMN Siap Investigasi Pindad

TEMPO Interaktif, JakartaKementerian Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) siap menggelar investigasi terhadap PT Pindad (Persero) terkait penyitaan 100 pucuk senjata SS V1 (Senapan Serbu Varian 1) oleh pemerintah Filipina pada, Kamis pekan lalu.

Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil mengatakan kementerian akan memeriksa apakah pengiriman senjata itu tunduk pada aturan produksi hingga pemasaran. Bila tak beres, lanjutnya, kementerian akan menggelar investagasi. "Menurut Pindad, mereka melakukan itu sesuai aturan," ujarnya ditemui di kantor kementerian BUMN, Senin (31/8).

Dia menjelaskan pemerintah mengontrol penjualan senjata yang dilakukan oleh BUMN industri strategis. Sementara kementerian BUMN sebagai pemegang saham mayoritas, Departemen Pertahanan sebagai regulator.

Senjata laras panjang itu ditemukan dalam satu paket dengan 10 pucuk pistol P2 buatan Pindad yang dipesan oleh Philipine Shooting Club. Nilai senjata Mali sebesar Rp 800 juta dan pistol untuk Filipina hanya Rp 60 juta.

Deputi Usaha Pertambangan, Industri Strategis, Energi, dan Telekomunikasi (PISET) Sahala Lumban Gaol mengatakan hingga kini kementerian belum memanggil direksi Pindad. Komunikasi sejak tersangkutnya senjata itu baru dilakukan lewat telepon. "Kami sudah minta kronologinya," ujarnya. Menurut dia, transaksi Pindad dengan Mali dan Filipina tidak bermasalah, berlaku bisnis seperti umumnya.

Ketika ditanya mengenai dugaan peluru produksi Pindad pada kasus penembakan di areal Freeport, Sofyan menjelaskan selain bisa mendapatkan dari Pindad, penembak bisa mendapatkannya dari pihak kedua atau ketiga. "Kalau ada yang tak beres segera kami cari permasalahannya," ucap dia.

RIEKA RAHADIANA