Berita Terkait


Boyolali Serius Perangi Daging Sapi Glonggongan

TEMPO Interaktif, Boyolali – Kepala Dinas Peternakan Boyolali Dwi Purwoko menyatakan instansinya serius untuk memberantas peredaran daging sapi glonggongan di Boyolali. Selain pengawasan yang semakin ketat, juga dilakukan sosialisasi ke masyarakat untuk tidak mengkonsumsi daging glonggongan.

"Pengawasan dilakukan saat pemotongan sapi di rumah pemotongan hewan (RPH). Semua yang akan dipotong diperiksa dengan teliti. Kemudian daging dibekali surat resmi dan cap yang menandakan daging tersebut sehat dan layak konsumsi,” terangnya, Sabtu (5/9). Dia mengatakan dalam sehari rata-rata dipotong 90 ekor sapi di RPH.

Pengawasan dengan metode lain dilakukan dengan melakukan razia secara rutin, minimal sebulan dua kali di rumah-rumah penduduk. Menurutnya, untuk mencegah daging sapi glonggongan harus dimulai dari asal daging itu sendiri. Dwi menyebut praktek pengglonggongan biasa dilakukan di rumah-rumah penduduk. “Pantauan kami, praktek tersebut paling tidak terjadi di Kecamatan Ampel dan Cepogo,” jelasnya. Populasi sapi di Boyolali sekitar 150 ribu ekor.

Dua kecamatan itu menjadi target pantauan karena keberadaan jagal sapi glonggongan di daerah tersebut. Selain itu, rekam jejak yang menyebutkan asal daging glonggongan kebanyakan dari Ampel dan Cepogo. “Kesulitan kami, setelah ketahuan lokasinya, mereka lantas pindah tempat. Atau saat kami berniat menangkap basah, ternyata jagal sedang tidak beroperasi,” keluhnya.

Sejatinya, untuk memberikan efek jera, dinas sudah bersikap tegas terhadap pelaku pengglonggongan. Dia mencatat sepanjang tahun ini sudah membakar dua sapi glonggongan yang masing-masing senilai Rp 18 juta. Selain itu pelaku juga diproses secara hukum atas tindakan penyiksaan hewan. “Kami berharap mereka yang ingin melakukan glonggong jadi mengurungkan niatnya setelah tahu akibatnya,” Dwi menandaskan.

Sosialisasi juga gencar dilakukan di masyarakat, utamanya ibu rumah tangga. Dwi selalu menekankan bahaya mengkonsumsi daging sapi glonggongan. “Jika kita makan daging glonggongan, seperti mengkonsumsi daging sampah karena sudah tidak ada nilai gizinya sama sekali,” jelasnya. Akibat diglonggong, ikatan protein menjadi pecah dan sari protein keluar. Sehingga yang tersisa hanya daging tanpa gizi. “Kami ingatkan, jangan asal murah dan asal makan daging. Jika tidak bergizi, tidak ada manfaatnya,” lanjutnya.

Masyarakat juga diajari untuk membedakan berbagai jenis daging. Misalnya daging yang sehat dan baik warnanya merah tua, sementara yang glonggongan agak pucat. “Kami berharap dengan kesadaran masyarakat untuk hanya membeli daging yang baik, maka daging glonggongan tidak laku dan merugi. Pada akhirnya sudah tidak ada lagi,” harapnya.

 

UKKY PRIMARTANTYO