foto

-

Berita Terkait



Mudik Modal Tekad, Naik Bajaj

BajajTEMPO Interaktif, Tegal - Demi menghemat fulus, sejumlah pemudik rela berdesakan di dalam bajaj. Kendaraan roda tiga itu menyusuri jalan bikinan Daendels dari Jakarta menuju kampung halamannya, Tegal dan Pemalang.

Di tengah keramaian arus mudik itulah tampak dua bajaj, masing-masing ditumpangi lima dan empat orang, berjalan lambat beriringan, di posisi kiri. Suara knalpotnya nyaring, ikut memeriahkan deru kendaraan yang lalu-lalang. "Memang harus menepi, tak enak dengan pemudik lain yang kecepatannya lebih tinggi," ujar Suparji, 38 tahun, saat beristirahat di Pos Pengamanan Mudik Desa Klampok, Kecamatan Wanasari, Brebes.

Ternyata, mudik dengan bajaj sudah dilakukan Suparji selama tiga kali Lebaran. Penghematan menjadi alasan utamanya. "Kami hanya mengeluarkan biaya Rp 150 ribu buat beli bensin dan oli samping," ujar Suparji, asal Desa Margasari, Tegal.

Suparji berangkat dari Jakarta bakda subuh kemarin, bersama istri dan dua anaknya, yang duduk di belakang bersama tumpukan barang bawaan. Bisa dibayangkan, muatan kendaraan mungil itu pun berjubel.

Sampai di pos itu sekitar pukul 11.30 siang. Berarti mereka telah menempuh 70 persen total jarak tempuh 450 kilometer. "Lumayan, kecepatannya relatif rendah, kurang dari 60 kilometer per jam," ujar dia sambil menyantap nasi di rantang bekalnya.

Dia pun mengaku nyaman karena, bagi Suparji, kenyamanan itu nomor dua. "Yang penting hemat. Kalau naik bus, mengeluarkan uang hingga Rp 360 ribu. Itu pun dengan tiket ekonomi yang sekarang Rp 90 ribu," katanya.

Alasan yang sama dikatakan Abdul Wahab, teman seperjalanan Suparji, yang juga memilih mudik dengan bajaj. "Meski lambat tapi lebih bebas, bisa istirahat di mana pun," katanya. Lelaki penarik bajaj yang bekerja sejak delapan tahun lalu itu mengangkut empat orang rekannya, yang bekerja sebagai buruh bangunan di Bekasi.

Tak aneh bila bajaj yang sempit itu tampil meriah, penuh dengan peralatan kerja yang hendak dibawa mudik. Tas besar, juga alat kerja tukang, seperti sekop, ditata di atas kabin. Di belakang kendaraan, terpasang bendera Merah Putih kecil berkibar-kibar.

Mereka membeli bahan bakar patungan."Ini namanya sama rasa menuju hari raya," ujar Wahab berkelakar. "Sudah mengisi dua kali, sejak dari Bekasi," Wahab melanjutkan.

EDI FAISOL