Topik
Dua Kapal Kandas di Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu
TEMPO Interaktif, Bengkulu - Kapal PT Pertamina pengangkut premium berbobot 1300 ton kandas di pintu masuk pelabuhan Pulau Baai Bengkulu pagi tadi, Jumat (9/10). Kapal yang memiliki draft 4,4 meter ini baru bisa lepas setelah bermanuver selama kurang lebih 30 menit.
"Nakhoda harus ekstra hati-hati jangan sampai menabrak bebatuan di jalur masuk pelabuhan karena bisa meledak." kata Pandu Bandar PT Pelindo Indra Jatnika, kepada Tempo.
Tidak lama setelah kapal Pertamina lepas, sebuah kapal pengangkut batu bara yang hendak keluar pelabuhan turut kandas. "Baru bisa lepas satu jam kemudian," ujar Indra. Kapal ini memiliki draft 4,6 meter.
Kapal-kapal yang kandas ini tidak bisa dibantu dengan kapal Tugboat karena alun (gelombang) di pintu masuk pelabuhan dalam beberapa hari ini tinggi. "Hingga satu meter," ungkapnya. Alun yang tinggi ini sangat riskan karena dapat menghempaskan kapal ke bebatuan di jalur masuk pelabuhan.
Menurut Indra, sejak tanggal tujuh oktober ini saja sudah empat kapal yang kandas di pintu masuk pelabuhan. "Setiap kapal yang akan melalui pintu masuk pelabuhan saat ini hampir bisa dipastikan akan kandas," Tegasnya.
Hal ini disebabkan pendangkalan di alur masuk pelabuhan yang kian parah. Banyak gundukan pasir di tengah-tengah pintu masuk pelabuhan, bahkan ada sebatang pohon cemara yang tumbuh di sana.
Berdasarkan pengamatan Pandu Bandar PT Pelindo, batas aman untuk masuk pelabuhan adalah kapal yang memiliki draft 4,4 meter. "Kondisi ini pun harus memperhitungkan laut pasang dan keadaan alun," jelasnya.
Sementara itu, kapal keruk jenis Hopper Inai Kekwa milik PT Pathaway yang bertugas mengeruk alur tidak bekerja maksimal, karena cuaca buruk. Kapal jenis keruk jenis Cutter yang dijanjikan Pemerintah Provinsi Bengkulu akan datang pada bulan Juli 2009 untuk melakukan pengerukan tahap kedua pun belum kunjung datang.
Beberapa anggota dewan Provinsi yang melakukan kunjungan langsung ke pelabuhan beberapa waktu lalu mengatakan akan segera memanggil Pemerintah Daerah Provinsi terkait pendangkalan alur pelabuhan ini. "Jika pemerintah daerah tidak mampu menyelesaikan pengerukan ini, sebaiknya serahkan saja kembali ke PT Pelindo," kata Basri Muhammad.
Pada 14 Februari 2008 PT Pelindo membuat kontrak kesepakatan dengan Pemerintah Propinsi Bengkulu untuk mengelola Pelabuhan Pulau Baai dengan pembagian hasil 70:30. Dalam kontrak disebutkan, pengelolaan teknis pelabuhan diserahkan kepada Pemprov, termasuk pengerukan alur.
Karena tidak ada biaya, Pemerintah membuat kesepakatan dengan investor, yaitu PT Pathaway International, untuk mengelola pelabuhan. Namun, pengelolaan pelabuhan tersebut tidak maksimal.
HARRI PRATAMA ADITYA