foto

AP/Wong Maye-E

Menanti Kontrasepsi Baru Pria  

TEMPO Interaktif, Bicara tentang kontrasepsi, bagi Eny Wibowo, 34 tahun, bukan perkara mudah. Karyawan swasta ini bukannya tak paham fungsi kontrasepsi, melainkan hingga kini ia belum mantap menggunakan pil KB yang dipilihnya. "Efek hormonalnya nggak tahan," kata ibu tiga anak ini.

Tekanan darahnya sering kali melonjak tiap kali minum pil antihamil. Untuk sementara ini Eny belum punya pilihan lain. "Saya sih percaya bahwa ber-KB itu, jika tak cocok, semestinya tak jadi beban satu orang," katanya. Namun, ia sendiri tak merasa lebih cocok dengan pilihan kontrasepsi lain, termasuk untuk pria.

Urusan kontrasepsi idealnya menjadi tanggung jawab bersama. "Karena kontrasepsi yang disetujui pasangan terbukti keberlanjutannya lebih tinggi," kata Profesor Biran Afandi, SpOG(K), dari Asia Pacific Council On Contraception (APCOC) Indonesia. Inilah yang menjadi perhatian dalam perayaan hari kontrasepsi dunia setiap 26 September yang tahun ini bertema "Your life, your choice: Talk Contraception"

Namun, bicara soal kontrasepsi, Dr Sugiri Syarif, MPA, Kepala BKKBN, mengaku khawatir terhadap perkembangan akhir-akhir ini. "Euforia reformasi membuat banyak orang membuang semua yang berbau Orde Baru, termasuk program keluarga berencana," kata Sugiri pekan lalu di Jakarta.

Padahal, jika terus tak mendapat perhatian, ancaman ledakan jumlah penduduk pada 2015 bakal benar terjadi. Indonesia belum aman dengan jumlah penduduk 230 juta jiwa, yang masih berada berada di urutan keempat jumlah penduduk dunia terbesar, setelah China, India, dan Amerika Serikat.

Saat ini, jumlah pasangan usia subur (PUS) yang ingin menunda punya anak atau tidak menginginkan anak lagi, tapi tidak menggunakan kontrasepsi, meningkat dari 8,6 persen, berdasarkan data SDKI 2002-2003, menjadi 9,1 pada SDKI 2007. Sementara itu, prevalensi penggunaan alat kontrasepsi (contraceptive prevalence rate/CPR) di Indonesia masih tergolong rendah. Dari 60 persen pada 2003, menjadi 61,4 persen pada 2007.

Sejauh ini, Sugiri mengakui, perempuan memang masih menjadi sasaran utama kontrasepsi. Berdasarkan data BKKN, hanya 1,5 persen peserta KB adalah pria. Itu pun hanya 0,7 persennya yang memilih vasektomi, yakni memotong saluran sperma.

Pasalnya, selama ini kontrasepsi pria lebih bersifat mekanis. Dari penggunaan kondom, yang dikeluhkan beberapa pasangan yang alergi, sampai vasektomi, yang harus melalui meja operasi.

Banyak faktor yang menghambat keterlibatan pria dalam berkontrasepsi. Salah satunya dari segi efisiensi. "Tiap bulan perempuan hanya menghasilkan satu sel telur matang. Sedangkan sel sperma pria bisa jutaan sel sperma. Jika intinya mencegah terjadinya pembuahan lebih mudah mencegah sel telur," kata Biran.

Belum lagi faktor budaya. "Masih beredar mitos bahwa KB itu urusan perempuan," kata Sugiri. Alternatif kontrasepsi pria juga masih sangat terbatas. Saat ini hanya ada dua jenis, yaitu kondom dan vasektomi. Sementara itu, ada ketakutan bahwa dengan vasektomi sama saja memberi kebebasan pria untuk "jajan" alias tak setia.

Kontrasepsi suntik pria memang pernah diteliti. Tapi efeknya lumayan menakutkan bagi pria, bahkan juga pasangannya. Tingkat kejadian impotensi pada kontrasepsi ini cukup tinggi.

Namun, harapan mendorong partisipasi pria dalam berkontrasepsi masih ada. Sugiri mengatakan saat ini BKKBN bekerja sama dengan Universitas Airlangga mencari alternatif lain untuk kontrasepsi pria, yakni dengan menggunakan tumbuhan gandarusa. "Sejauh ini hasilnya cukup baik, baru mencapai tahap praklinis fase satu," kata Sugiri.

Meski mengatakan masih terlalu dini untuk mengungkap hasilnya, Sugiri optimistis terhadap hasil penelitian ini. Ada harapan penggunaan olahan tumbuhan ini sebagai kontrasepsi oral bagi pria besar harapan tak akan tak mempengaruhi kesuburan dan fungsi fisik pria.

Sebetulnya, gandarusa telah lebih dari 20 tahun diteliti sejumlah ahli di Indonesia. Di Papua, tanaman ini secara turun-temurun digunakan masyarakat sebagai kontrasepsi pria. Lalu, pada uji praklinis pada hewan coba, tanaman itu efektif menekan pertumbuhan spermatozoa.

Penelitian ini awalnya dilakukan berdasarkan "Laporan Perjalanan ke Jayapura Sentani (Irian Jaya)", tulisan S. Moeso dan P. Agus dari Fakultas Biologi UGM pada 1985, yang kemudian dilanjutkan oleh Drs Bambang Prayogo, Apt., dari jurusan farmakognosi (cabang ilmu yang mempelajari tumbuhan sebagai obat) Fakultas Farmasi, Universitas Airlangga, Surabaya, sejak 1987.

Tak hanya di Papua, tumbuhan perdu bernama Latin Gendarussa vulgaris Nees ini juga dikenal di sejumlah daerah lain di Indonesia dengan khasiat yang kurang-lebih sama. Tumbuhan yang disebut besi-besi di Aceh dan handerasa atau gonorusa dalam bahasa Sunda ini telah lama dikenal sebagai obat untuk melancarkan peredaran darah, anti-peradangan, memar, antirematik dan pereda nyeri.

UTAMI WIDOWATI