Topik
Pendaki Gunung Merapi Dilarang Melalui Jalur Selatan
TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Setelah meletus pada tahun 2006, Gunung Merapi sudah aman untuk pendaki, tetapi masih ada syaratnya. Para pendaki Gunung Merapi dilarang naik melalui jalur Selatan karena beberapa alasan.
“Pendaki aman naik, tapi jangan lewat jalur Selatan yang melalui jalur Kinarjo karena sering terjadi guguran lava,” kata Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Subandrio kepada wartawan, Kamis, (22/10). Guguran lava itu terjadi lantaran ada bukaan baru akibat letusan tahun 2006 yang kawahnya membuka ke arah Selatan.
Bentukan kawah baru itulah yang mengeluarkan guguran lava yang masih belum stabil. “Guguran lava masih berbahaya karena kejadiannya kan sangat random, insidental,” kata Subandrio. Selain itu, guguran yang sifatnya gravitasional ketika berada di lereng yang sangat curam bisa jatuh setiap saat. Dengan alasan itulah, maka Subandrio mengatakan jalur Selatan beriko untuk didaki oleh pendaki.
Sementara jalur amannya, Subandrio menganjurkan, pendaki menggunakan jalur Utara melalui Selo dan jalur Barat melalui Babadan. Yang aman itu mendaki dari arah utara, Selo Boyolali, dan Barat melalui dari pos Babadan Magelang.
Selain aman bagi pendaki, Merapi juga masih aman bagi para penambang pasir yang biasa berada di kawasan Kaliboyong atau Kaligendol. Namun imbuh Subandrio diperkirakan potensi material hasil erupsi tahun 2006 lalu telah habis.
“Potensi materialnya hasil erupsi 2006 sudah habis untuk bisa ditambang,” katanya. Sementara itu, Subandrio menjelaskan dengan pergantian cuaca dari kemarau ke penghujan, kondisi puncak Merapi kering sehingga sesekali abu sisa erupsi 2006 terbawa angin. “Jadi hujan abu itu bukan aktifitas Merapi tetapi sisa erupsi letusan Merapai 2006,” katanya.
Ia menambahkan meski cuaca di Yogya saat ini cukup panas hingga 38 derajar celcius bahkan sempat terjadi putting beliung, peristiwa alam itu tidak terkait dengan peningkatan aktifitas Merapi.
Terpisah, Sekretaris daerah Pemerintah Provinsi DIY, Tri Hardjun yang dibacakan oleh Kepala Bapeda Pemprov DIY Edy Siswanto mengatakan diperlukan manajemen bencana untuk mengurangi atau menghindari ancaman bencana yang berpotensi menimbulkan korban. “Intinya kewaspadaan dan kesiapsiagaan,” katanya membuka sosialisasi rencana penanggulangan bencana Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta di Hotel Santika, Kamis, (22/10).
Menurut kepala bidang penanggulangan bencana Badan Kesatuan bangsa dan Perlindungan Masyarakat Pemerintah Provinsi Yogyakarta, Rusdiyanto rencana penanggulangan bencana ini akan dibuat dalam Peraturan gubernur.
BERNADA RURIT