Topik
Satu Daerah di Banyumas Dinyatakan KLB Diare
TEMPO Interaktif, Purwokerto - Sejumlah 69 warga Desa Pamijen, Kecamatan Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah, harus menjalani rawat jalan karena terserang diare. Diare di desa tersebut juga telah merenggut nyawa enam jiwa.
"Melihat jumlah korban, wabah ini sudah masuk kategori Kejadian Luar Biasa," kata Kepala Dinas Kesehatan Banyumas, Widayanto, Sabtu (24/10), usai melakukan pengambilan contoh air di sejumlah sumur warga di Desa Pamijen, Kecamatan Sokaraja.
Salah seorang warga setempat, Patonah, mengakui dalam dua hari terakhir banyak tetangganya yang meninggal, beberapa di antaranya masuk ke RS Margono Soekarjo. Ada sekitar delapan warga yang masih dirawat.
"Pada mumnya mereka mengalami muntah-muntah disertai berak. Seperti yang terjadi pada Pisem. Pada Kamis sore Pisem sakit. Gejalanya muntah-muntah dan berak. Pagi harinya, Mbok Pisem yang berusia 80 tahun itu meninggal," kata Patonah.
Patonah meminta Dinas Kesehatan memeriksa seluruh warga yang ada di desanya supaya penyakit tersebut tidak menular ke warga lainnya. "Jelas kami sangat khawatir dengan kondisi tersebut," ujarnya.
Hari ini tim dari Laboratorium Kesehatan Dinas Kesehatan Jawa Tengah mengambil contoh air sumur dan sungai penduduk Desa Pamijen. Selain itu mereka juga mengambil contoh feces penduduk setempat.
Mereka mengambil contoh air untuk mengetahui penyebab wabah tersebut. Widayanto mengatakan pengambilan contoh air dialakukan setelah ada enam orang meninggal dunia karena penyakit yang sama, yakni diare. Selain enam meninggal, sepuluh orang lainnya kini sedang dalam kondisi kritis di Rumah Sakit Umum Margono Soekardjo Purwokerto.
Enam orang yang meninggal tersebut masing-masing bernama Ridem, Juneng, Samuraji, Dasem, Pisem, dan Suwini. Mereka meninggal hanya dalam waktu tiga hari sejak Kamis kemarin.
Widayanto mengatakan, dari gejala klinis, penderita diare rata-rata mengeluhkan sakit perut, mulas, dan muntah-muntah. "Pada saat dibawa ke Puskesmas, cairan mereka telah berkurang sebanyak 10 persen, terjadi dehidrasi yang mengakibatkan gagal ginjal," kata Widayanto.
Widayanto menduga penyebab diare tersebut karena sanitasi masyarakat yang buruk. Penduduk di desa tersebut, kata Widayanto, hampir 50 persen menggunakan air sungai yang mengalir di desa itu. Padahal, kata dia, saluran pembuangan kakus disalurkan ke sungai tersebut.
Salah satu anggota tim Laboratorium Kesehatan Jawa Tengah, Indah Manutsih, mengatakan hasil analisa contoh air dan feces diperkirakan baru akan keluar pekan depan. "Kami masih belum bisa menentukan apa penyebabnya, apa bakteri atau virus," ujarnya.






Web via