Aung San Suu Kyi Kemungkinan Akan Segera Dibebaskan  

TEMPO Interaktif, Bangkok - Pemerintah penguasa Burma yang tampak kian terjepit dalam berbagai tekanan dunia internasional, mulai menampakkan tanda-tanda melunak dengan melakukan pendekatan pada negara-negara barat, dan menurut beberapa diplomat Asia, penguasa junta militer itu kini tengah mempertimbangkan untuk membebaskan Aung San Suu Kyi, tokoh oposisi pro demokrasi yang telah 20 tahun dalam status tahanan politik.

Kazuo Kodamam jurubicara Perdana Menteri baru Jepang, Yukio Hatoyama, mengatakan, Perdana Menteri Burma, Jendral Thain Sein, yang tengah berada di thailand guna menghadiri KTT ASEAN ke-15, mengatakan pengawasan ketat terhadap Aung San Suu Kyi akan dikurangi.

"Dia (Suu Kyi) berada dalam tahanan rumah, dan perdana menteri (Thein Sein) mengatakan dia (Suu Kyi) terus-menerus bersikap baik terhadap pemerintah, sehingga kemungkinan akan dikurangi tekanan-tekanan dan pelarangan yang selama ini sering diberlakukan," ujar Kodama.

Meskipun mendapatkan 18 bulan hukuman perpanjangan tahanan rumah pada bulan lalu, tetapi pada September lalu, Suu Kyi telah membuat surat kepada pemimpin Burma Jendral Than Shwe, yang menawarkan bantuan untuk melobi kepada negara-negara barat agar mengurangi sanksi ekonomi politiknya kepada Burma.

Kodama juga mengatakan pemerintah Burma menjanjikan Pemilu yang akan diadakan pada tahun depan akan berlangsung terbuka, dan kini sedang disiapkan peraturan yang akan mendukungnya.

"Pemerintah Burma akan menjamin semua stakeholder akan dilibatkan dalam proses," ujar Kodama.

Kodama juga mengatakan bahwa Pemimpin Burma itu telah mengatakan kepada para pemimpin anggota ASEAN plus Jepang, Cina, dan Korea Selatan yang hadir di Thailand, bahwa Amerika Serikat dan Aung San Suu Kyi kini telah bersikap lebih lunak terhadap rezim junta militer Burma.

Setelah bertahun-tahun dalam isolasi ekonomi politik dari Amerika Serikat dan negara-negara barat, akhir-akhir ini, sikap pemerintah junta lebih melunak, dan mau menjalin dialog dengan kalangan internasional. Pekan depan, sebuah delegasi yang dipimpin Asisten manteri luar negeri Amerika Serikat, dijadwalkan akan mengunjungi negara ini secara resmi, untuk mencari fakta-fakta di lapangan, gunan mempertimbangkan kemungkinan Amerika Serikat mengurangi isolasinya.

FINANCIAL TIMES l WAHYUANA