Topik
Seluruh Wilayah Garut Tercemar Bakteri E. Coli
TEMPO Interaktif, Garut - Hampir seluruh air tanah yang berada di 42 kecamatan di Kabupaten Garut, Jawa Barat, tercemar bakteri escherichia coli (E. coli). Berdasarkan hasil penelitian kadar bakteri E. coli dalam air sumur warga, rata-rata mencapai 1.000 sampai 3.000 partikel per mikro.
"Seharusnya kadar bakteri itu tidak boleh lebih dari 10 partikel per mikro," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Garut Hendy Budiman saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (26/10).
Menurutnya, pencemaran tersebut diakibatkan pembuatan septic tank yang tidak benar. Jarak penampung limbah itu terlalu dekat dengan sumur warga. Seharusnya, jaraknya tidak kurang dari 10 meter. Akibatnya bakteri tersebut langsung menyerap ke dalam tanah dan bercampur dengan air.
Tingginya kadar bakteri dalam air itu diduga akibat bak-bak penampung dalam tanah itu tidak dikuras dengan teratur, sehingga bakteri tersebut mengendap dan terus berkembang.
Pencemaran terparah berada di daerah yang kerap dilanda kekeringan, seperti di wilayah Garut bagian timur, di antaranya Kecamatan Wanaraja, Sukawening, Cibatu, Kersamanah, dan Kecamatan Malangbong. Karenanya tidak heran bila di Kabupaten Garut terjadi kejadian luar biasa penyakit diare, mata dan penyakit kulit.
Selain itu, kondisi sanitasi juga kian diperparah proses pembuangan limbah cair dan padat dari kawasan industri penyamakan kulit di kampung Sukaregang, Kecamatan Garut Kota.
Limbah yang memiliki kandungan "chrom" maupun zat besi dan unsur kimia sangat tinggi itu, langsung dibuang ke sungai tanpa melalui proses penyaringan terlebih dahulu. Akibatnya mencemari sebagian sumur dan persawahan milik warga.
Meskipun begitu, sebanyak 71 persen warga yang tinggal di perkotaan telah melakukan pemakaian air bersih untuk kebutuhan sehari-harinya. Sedangkan di pedesaan baru mencapai 62 persen dari jumlah seluruh penduduk Garut yang mencapai 2.481.471 jiwa. "Untuk menetralisirnya dari bakteri air cukup diberi kapotir saja, dan juga air harus dimasak dengan baik," ujarnya.
Ketua Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Garut, Helmi Budiman, mengatakan tercemarnya air warga diakibatkan kurangnya keterlibatan pemerintah dalam bidang kesehatan sehingga pelaksanaan pengawasan peraturan daerah tentang kesehatan lingkungan tidak berjalan dengan baik.
"Seharusnya pemerintah itu turun langsung ke masyarakat untuk melakukan promosi kesehatan, sehingga semuanya dapat diawasi dengan baik," ujarnya.
Buruknya sanitasi ini akan menjadikan faktor sulitnya Pemerintah Kabupaten Garut untuk mewujudkan target Garut sehat pada tahun 2010. Apalagi ditambah dengan pola hidup sehat di masyarakat belum membudaya.
SIGIT ZULMUNIR